Depresi di Era Media Sosial: Bijakkah Anda dalam Menggunakannya?

By Nadya Pramesrani

Pada sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika, oleh National Institute of Mental Health (2016) sekelompok peneliti mencoba mencari tahu dampak dari penggunaan sosial media di kaum remaja dan dewasa muda terhadap kesehatan mental mereka. Bisa kita lihat juga di Indonesia bahwa penggunaan sosial media seperti sudah menjadi kebutuhan dan kebiasaan yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Awalnya media sosial tercipta untuk kemudahan komunikasi dengan teman/relatif yang tinggal berjauhan secara fisik, tapi semakin kesini kita melihat bahwa kok ternyata banyak masalah yang muncul dari penggunaan sosial media, seperti cyber bullying dan depresi.

Apa itu depresi? Depresi merupakan kondisi emosional seseorang yang dapat mempengaruhi mood, cara berpikir, dan perilaku yang ditampilkan. Seseorang yang mengalami depresi berada di situasi kesedihan yang mendalam dan kehilangan semangat untuk beraktivitas atau melakukan kegiatan yang sebelumnya disenangi. Ciri lain dari seseorang yang mengalami depresi adalah kehilangan nafsu makan, kesulitan tidur atau tidur berlebihan, tidak bertenaga atau senantiasa merasa kelelahan, gerakan fisik yang melambat, memiliki perasaan bersalah dan tidak berharga, kesulitan berpikir dan konsentrasi, serta memiliki pikiran untuk bunuh diri. Beberapa waktu terakhir ini di media massa juga kita baca beberapa tokoh yang bunuh diri diduga karena mengalami depresi seperti Chester Bennington vokalis dari grup band LInkin Park atau Robin Williams, seorang aktor Hollywood.

Jadi adakah keterkaitan antara media sosial dengan depresi? Hasil penelitan dari National Institute of Mental Health menemukan bahwa ada hubungan antara penggunaan sosial media dengan kondisi depresi. Semakin banyak atau lama seseorang menggunakan media sosial, maka semakin rentan pula dirinya mengalami depresi.

Bagaimana penggunaan media sosial bisa berhubungan dengan kondisi depresi?

Apa yang ditampilkan oleh orang di akun media sosialnya tidak melulu adalah hal yang sebenarnya. Istilah jaman sekarangnya sih kita sebut dengan pencitraan. Ketika punya kendali penuh terhadap apa yang ingin kita tampilkan ke dunia luar, kenapa kita ingin menampilkan yang buruk-buruknya? Adalah manusiawi bila seseorang ingin tampil baik di depan orang lain.

Namun apa yang terjadi bila semua orang HANYA menampilkan yang terbaik dari kehidupannya? Orang-orang yang menikmati feed tersebut pun kemudian akan merasa bahwa apa yang ditampilkan adalah kenyataan yang utuh. “Wah, hebat ya dia bisa begini. Hebat ya dia bisa begitu.” Tanpa disadari kemudian kita melakukan perbandingan, membandingkan antara hidup kita (yang biasa-biasa saja, yang punya masalah, yang punya drama dan konfliknya lainnya) dengan kehidupan orang lain di feed media sosial (yang “terlihat” sempurna, baik-baik saja, bahagia selalu).

Baron & Bryne (2002) dalam bukunya Social Psychology mengemukakan bahwa ketika berada dalam lingkungan sosial, seseorang cenderung melakukan perbandingan dengan orang lain. Dan perbandingan yang dilakukan ini ternyata berdampak pada kepercayaan diri dan self-esteem individu tersebut. Ketika kita melihat bahwa ada orang lain (terutama yang tidak dikenal atau tidak memiliki hubungan dekat) yang dinilai lebih buruk/lebih rendah dari kita maka kepercayaan diri dan self-esteem kita akan meningkat. Namun bila kita membandingkan diri dengan orang lain yang terlihat lebih hebat maka hal ini akan menurunkan kepercayaan diri dan self-esteem.

Jadi, ketika kita sedang menggunakan media sosial, dan semua feed di sosial media kita menunjukkan bahwa orang lain terlihat memiliki kehidupan yang sempurna, di saat kita tahu hidup kita tidak sempurna, maka tidak heran bila kemudian kita merasa gagal dan tidak memiliki keunggulan. “Dia aja bisa begitu, aku kok ga bisa. Begini-begini aja. Naas banget sih hidupku” dan pikiran-pikiran negatif lainnya yang dapat membuat seseorang mengalami depresi.

Apa yang harus dilakukan kalau begitu? Batasi penggunaan media sosial, nikmati saja feed orang-orang yang kita kenal, yang kita tahu bahwa terlepas dari apa yang ditampilkannya di sosial media, kita tahu kok perjuangannya di belakang layar seperti apa. Ingat-ingat mantra bahwa apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu sepenuhnya benarPerbanyak interaksi langsung dengan orang lain, bukan hanya via media sosial. Interaksi langsung, berkomunikasi secara verbal dan nonverbal, akan memberikan lebih banyak informasi dan memenuhi kebutuhan seseorang untuk bersosialisasi dibanding hanya via sosial media. Last but not least, ingat bahwa media sosial hanyalah salah satu cara untuk “bersantai dan rekreasi”, jadi kalau sudah tidak lagi dirasa menyenangkan, beralihlah ke lainnya yang dapat membuat diri senang.

Nadya Pramesrani, M. Psi., Psikolog.

Sumber:

Lin, L., et al. (2016). Association between social media use and depression among U.S. young adults. Depression and Anxiety Journal: Volume 33, Issue 4, Pages 257-346.

Baron, R. & Bryine, D. (2002). Social psychology: 10th Edition. USA: Pearson Education, Inc.

https://www.psychiatry.org/patients-families/depression/what-is-depression

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>