Dear Parents, Apa itu Disiplin Positif?

By Rumah Dandelion

Banyak orangtua yang kerap mengeluh bahwa anaknya sulit sekali diatur dan tidak mau mengikuti perintah dari orangtua. Tentu hal semacam ini membuat orangtua kesal dengan perilaku anaknya. Tidak dapat dipungkiri bahwa perilaku yang ditunjukkan oleh anak-anak tersebut mengarah pada isu perkembangan anak yaitu kedisiplinan.

Bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia, arti kata disiplin dapat dijelaskan sebagai tata tertib, kepatuhan dan ketaatan pada peraturan. Dalam konteks tumbuh kembang anak, isu mengenai kedisiplinan kerap dikaitkan dengan kepatuhan anak pada peraturan yang ditetapkan oleh orangtuanya. Hal ini juga mengacu pada bagaimana orangtua menjelaskan mengenai hal-hal apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan.

Dalam ilmu psikologi dikenal istilah disiplin positif. Istilah ini merujuk pada bagaimana orangtua mengajarkan kedisiplinan bagi anak dengan cara yang baik dan tegas di saat bersamaan (McVittie, 2003). Disiplin positif juga menekankan pada bagaimana orangtua mengembangkan keterikatan pada anak saat menerapkan kedisiplinan tersebut. Hal ini dapat membuat orangtua maupun anak saling menghargai satu sama lain. Tidak hanya anak yang dituntut untuk mematuhi peraturan yang orangtua buat, namun orangtua turut serta terlibat dan memposisikan diri di sisi anak. McVittie (2003), menambahkan bahwa mengembangkan disiplin positif pada anak akan membuat mereka belajar mengenai social skill yang dibutuhkan untuk kehidupan bermasyarakat di kemudian hari. Lantas, cara apa saja yang bisa dilakukan oleh orangtua untuk mengajarkan disiplin positif pada anak?

Thanasetkorn (2009), dalam disertasi, mengungkapkan bahwa terdapat beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orangtua untuk mengajarkan disiplin positif pada anak, diantaranya yaitu:

  1. Make a Big Deal Principle

Cara ini digunakan untuk menerapkan disiplin positif pada anak ketika ia bereperilaku sesuai harapan orangtua, seperti bertanggung jawab pada tugas, menampilkan tingkah laku yang sesuai, membantu teman dan hal lainnya. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan menatap anak dengan penuh perhatian dan mengucapkan terimakasih, memujinya, mengangkat kedua jempol atau memeluk anak. Rekognisi seperti ini akan sangat memengaruhi kondisi psikologis anak dibandingkan pemberian insentif seperti makanan atau mainan.

  1. Incompatible Alternative Principle

Berikan kepada anak suatu hal atau tugas untuk menghindari perilaku yang tidak diinginkan. Sebagai contoh ketika seorang anak diajak pergi ke supermarket dan ia terus berlari-lari, orangtua dapat mengalihkan perhatiannya dengan meminta anak menolong orangtua berbelanja: “Nak, coba ambilkan bunda 5 buah Apel Hijau dan 5 buah Apel merah”

  1. Choice Principle

Cara ini digunakan dengan memberikan dua pilihan kepada anak. Pilihan yang ditawarkan tersebut pada dasarnya merupakan pilihan yang positif dan dapat orangtua terima. Sebagai contoh, ketika anak habis selesai bermain dan belum membereskan mainannya yang berserakan, orangtua dapat memberikan pilihan kepada anak: “Nak, mainannya masih berantakan tuh. Kamu mau membereskan sekarang atau nanti siang?”

  1. When/Then Abuse it/Lose it principle

Cara ini digunakan dengan melibatkan kerjasama antara orangtua dan anak. Ketika anak melaksanakan hal yang diminta orangtua, maka orangtua memberikan privileges kepada anak. Namun, ketika anak tidak melaksanakan hal yang diminta oleh orangtua, maka privileges tersebut tidak diberikan. Sebagai contoh: Ketika anak mau mengerjakan PR, maka ia diperbolehkan untuk menonton TV.Namun, bila keadaan sebaliknya, maka anak tidak diizinkan untuk menonton TV.

  1. Validation Principle

Cara ini digunakan dengan memvalidasi keinginan dan perasaan yang sedang dialami anak. Sebagai contoh: ketika anak tidak mau masuk sekolah karena tidak ingin bertemu dengan gurunya, orangtua dapat mengajak anak berbicara “Nak, bunda tau kamu marah dengan gurumu dan kamu ingin tetap dirumah saat ini. Bunda tidak akan menyalahkan kamu. Tapi, 30 menit lagi ayah akan pergi ke kantor dan mengantarkan kamu.”

  1. Belonging and Significance Principle

Setiap orang pastilah butuh untuk merasa bahwa dirinya signifikan di mata orang lain. Tidak terkecuali anak-anak kita. Untuk itu, orangtua perlu membantu anak untuk membuatnya merasa penting dan signifikan. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memberikan tugas yang orangtua anggap penting. Oleh karena itu, anak akan merasa bahwa dirinya penting dengan diberikan tanggung jawab. Salah satu caranya dapat dilakukan dengan meminta anak untuk menjaga adik kecilnya ketika bunda sedang memasak atau membantu ayah membersihkan mobil setiap hari Sabtu.

  1. Timer Says it’s Time Principle

Pada cara ini, orangtua menerapkan pembatasan waktu bagi anka untuk mengajarkan kedisiplinan pada anak. Cara yang dapat dilakukan yaitu dengan memasang timer  yang menandakan bahwa anak harus menyelesaikan kegiatannnya saat timer berbunyi. “Nak, kalau jam nya sudah bunyi, berarti main mobil-mobilannya sudah selesai yah” atau “Mainnya lima menit lagi yah Nak, habis itu kita makan siang.”

Ketika anak sudah mulai beranjak dewasa, orangtua dapat pula menawarkan waktu yang dibutuhkan untuk anak dalam mengerjakan suatu kegiatan: “Nak, kira-kira berapa lama kamu akan main sepeda di halaman?”

  1. I Message Principle- Own Your own Feeling

Cara ini dilakukan dengan menyampaikan perasaan yang orangtua rasakan saat anak melakukan suatu tindakan, khususnya tindakan yang tidak diharapkan oleh orangtua. Sebagai contoh ketika anak memberantakan mainannya di lantai, orangtua dapat menyampaikan perasaannya “Dek, kok mainannya tidak dibereskan, kan Bunda capek kalau harus bereskan mainan adik lagi”

  1. Whisper Principle

Daripada berteriak atau berbicara dengan keras, terkadang anak membutuhkan kejutan dengan  orangtua menyampaikan sesuatu secara pelan dengan berbisik atau merendahkan suara. Hal ini dapat membuat perhatian anak teralihkan secara langsung.

Nah Parents, hal-hal tadi merupakan cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan disiplin positif pada anak. Meskipun begitu, orangtua tetap harus memperhatikan karakteristik yang anak miliki dan situasi yang sedang berlangsung saat penerapan disiplin positif dilakukan.

Ditulis oleh Tiza Meidrina

Referensi:

McVittie, J. (2003).  Research Supporting Positive Discipline in Homes, Schools and Communities. Research Supporting Positive Discipline. Retrieved from https://www.positivediscipline.org/Content/Documents/Document.ashx?DocId=36211

Thanasetkorn, P. (2009). The impact of the 101s: A guide to positive discipline parent training: A case study of kindergarteners and their parents in bangkok, thailand (Order No. 3391761). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global. (305070266). Retrieved from http://search.proquest.com/docview/305070266?accountid=17242

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>