Dampak Positif Ibu Pekerja Bagi Perkembangan Anak

By Rumah Dandelion

Di jaman sekarang, sudah jadi hal yang jamak dan wajar bagi seorang wanita untuk bekerja, meski ia adalah seorang ibu. Menjadi ibu tidak lantas membatasi wanita untuk hanya mengurusi anak dan suami serta urusan rumah tangga (baca: masak, cuci baju, setrika, sapu, pel, serta seabrek tugas rumah lainnya). Meski demikian, rasa bersalah bahwa tidak menghabiskan 100% waktunya bagi keluarga masih kerap dialami banyak ibu pekerja.

 

Tidak semua ibu punya privilege untuk bisa memilih tidak bekerja, misalnya karena tuntutan sebagai orangtua tunggal maupun tuntutan finansial sehingga harus membantu suami untuk menambah pendapatan keluarga. Namun, bagi ibu yang punya pilihan untuk tidak bekerja pun, tidak sedikit yang tetap memilih bekerja. Alasannya beragam. Rumah Dandelion pernah membahas topik ini di Instagram dan banyak ibu yang berbagi cerita mengapa dirinya memilih bekerja. Di samping alasan yang terkait keuangan (ingin lebih mandiri secara finansial, jaga-jaga ketika yang terburuk terjadi saat suami tidak ada atau tidak bisa lagi menafkahi, untuk menabung biaya pendidikan anak), banyak juga yang menjawab bekerja sebagai sarana apresiasi dan aktualisasi diri, berkarya dan bermanfaat bagi banyak orang, punya identitas diri yang lebih solid, atau untuk merasa lebih puas pada hidup.

 

“Egois banget ya si ibu.. malah memilih bekerja dan anaknya dibiarkan sama mbak di rumah..” Ini merupakan salah satu stigma yang kerap menjadi sumber rasa bersalah ibu pekerja. Ibu pekerja seringkali dikaitkan dengan dampak negatif pada perkembangan anak dan juga kualitas kelekatan ibu-anak yang kurang, karena waktu bersama anak yang lebih sedikit daripada ibu rumah tangga. Benarkah demikian?

 

Menurut Lois Hoffman, Ph.D, baik buruknya perkembangan seorang anak tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan faktor tunggal apakah ibunya bekerja atau tidak. Ada faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi. Salah satunya adalah well being ibu (http://parenthood.library.wisc.edu). Bekerja (full time maupun part time) dapat memberi ibu perasaan berharga dan memiliki kontrol terhadap hidupnya. Hal ini berdampak positif pada kesehatan mental ibu yang kemudian mempengaruhi interaksinya dengan anak. Ibu yang bahagia dengan bekerja, serta pulang ke rumah dalam keadaan bahagia karena kebutuhannya telah terpenuhi dan siap bermain bersama anak secara penuh, akan lebih baik daripada seharian di rumah bersama anak namun merasa terkungkung dan stress. Seberapa besar keterlibatan ayah dalam urusan rumah tangga dan gaya pengasuhan orangtua juga menjadi faktor lain yang menentukan seberapa positif atau negatif dampak bekerjanya ibu terhadap perkembangan anak.

 

Survey yang dilakukan oleh Kathleen McGinn, Mayra Castro & Elizabeth Lingo dari Harvard Business School terhadap 50.000 keluarga dari 24 negara, menunjukkan bahwa anak perempuan dari ibu pekerja lebih banyak yang ketika dewasanya juga bekerja, punya jabatan pada tingkat supervisor, dan memperoleh gaji lebih tinggi. Sedangkan anak laki-laki dari ibu pekerja lebih banyak yang terlibat dalam pekerjaan rumah tangga, mereka mau berbagi tugas untuk mengasuh anak karena tidak melihat pengasuhan anak sebagai tugas ibu semata. Seperti yang diutarakan oleh McGinn “I think for both mothers and for fathers, working both inside and outside the home gives your kids a signal that contributions at home and at work are equally valuable, for both men and women. In short, it’s good for your kids.” (http://www.hbs.edu).

 

Penelitian Almani, Abro & Mugheri (2012) turut membuktikan bahwa ibu pekerja dapat menjadi role model bagi anak-anaknya akan bagaimana bertanggung jawab, berbangga terhadap pencapaian, serta pembentukan nilai-nilai akan pentingnya jadi pribadi yang produktif, mandiri, dan percaya diri. Meta-analisis terhadap 69 studi yang pernah ada dalam rentang 50 tahun juga menunjukkan bahwa asumsi jika ibu bekerja maka anak akan mengalami permasalahan belajar, perilaku, atau sosial, tidak terbukti. Meski demikian, ada hasil yang menarik. Ternyata, timing kapan ibu memilih untuk bekerja juga bisa memberikan dampak yang berbeda. Dampak yang lebih positif ditemukan pada ibu yang memilih bekerja saat usia anaknya sudah 2-3 tahun, daripada di satu tahun pertamanya.  (https://www.psychologytoday.com).

 

Sekali lagi, hal ini bukan berarti anak tidak mendapat manfaat ketika ibu menghabiskan lebih banyak waktu di rumah atau memilih sebagai ibu rumah tangga yaa….melainkan, ibu pekerja memiliki keunikan dan dinamikanya sendiri, yang juga bisa memberikan dampak positif pada anak.

 

Semangat ya ibu!!! Each one of us, we’re doing the best we can in this not-so-ideal world we live in.

 

Bagaimana menyeimbangkan antara urusan keluarga dan pekerjaan? Baca artikelnya di sini yaa..

 

 

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

 

 

Referensi:

Almani, A., Abro, A., & Mughari, R. 2012. Study of the Effects of Working Mothers on the Development of Children in Pakistan. International Journal of Humanities and Social Science. Vol. 2 No. 11. http://www.ijhssnet.com/journals/Vol_2_No_11_June_2012/18.pdf

 

Cummins, Denise. The Truth about Children of Working Mothers. https://www.psychologytoday.com

 

Hoffman, Lois Wladis. The effects of the Mother’s Employment on the Family and the Child. http://parenthood.library.wisc.edu

 

Lucas-Thompson, R., Goldberg, W., & Prausse. J. 2010. Maternal Work Early in the Lives of Children and Its Distal Association with Achievement and Behavior Problems: A Meta Analysis. Psychological Bulletin American Psychological Association, Vol. 136. No. 6, 915-942. http://www.apa.org/pubs/journals/releases/bul-136-6-915.pdf

Children Benefit from Having a Working Mom. http://www.hbs.edu/news/articles/Pages/mcginn-working-mom.aspx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>