Bolehkah Remaja Diet?

By Rumah Dandelion

Mulai memasuki usia remaja, umumnya mulai muncul juga keluhan-keluhan mengenai berat badan atau bentuk badan yang dirasa kurang ideal. Biasanya remaja putri lebih banyak mengeluhkan isu-isu kelebihan berat badan dibandingkan laki-laki. Sewajarnya remaja memang akan mengalami perubahan-perubahan bentuk fisik yang disebabkan oleh pubertas. Santrock (2011) mengatakan bahwa remaja putri akan mengalami penambahan berat badan yang signifikan, terutama di masa-masa awal pra-remaja (usia 10 – 13 tahun) dimana remaja putri akan memiliki berat badan lebih tinggi dibandingkan remaja putra. Barulah mulai usia 14 tahun ke atas, penambahan berat badan remaja putra akan naik melesat dan melebihi berat badan remaja putri. Selain dari penambahan berat badan tersebut, remaja putri juga akan mengalami perubahan-perubahan fisik lainnya, seperti membesarnya payudara, tinggi badan bertambah, dan pinggul yang melebar.

Secara fisik memang ada perubahan-perubahan fisik yang terjadi. Secara kognitif, remaja juga merupakan fase dimana seseorang mulai menunjukkan kepedulian tinggi terhadap bentuk tubuhnya. Bahkan, umum ditemui remaja-remaja yang berobsesi untuk memiliki bentuk tubuh idaman. Idaman berdasarkan perbandingan dengan bentuk tubuh orang lain serta gambaran-gambaran bentuk tubuh ideal yang diiklankan di media-media massa.

Hal ini kemudian mendorong remaja untuk mulai menjalankan program diet demi mencapai bentuk tubuh idaman. Bolehkah remaja berdiet? Sebenarnya kalau dikembalikan lagi kepada pemahamannya, diet pada dasarnya merupakan pola hidup sehat berdasarkan prinsip konsumsi anekaragam pangan, perilaku hidup bersih, aktivitas fisik, dan memantau berat badan secara teratur dalam rangka mempertahankan berat badan normal (Pedoman Gizi Seimbang, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2014).

Hal-hal yang menjadi penyebab utama remaja mengalami kelebihan berat badan adalah konsumsi makanan tidak sehat (makanan cepat saji, banyak gula, tinggi lemak, minim sayur dan buah, banyak gorengan), kurangnya olah raga rutin, kurang tidur dan/atau terjaga hingga larut malam (Santrock, 2011). Apalagi dengan masanya sosial media dan online games seperti sekarang ini, lebih sering kita temui remaja berkumpul bersama namun sambil memainkan gawainya masing-masing, alih-alih beraktivitas fisik bersama seperti olah raga.

Peran orangtua disini menjadi penting untuk membantu remaja mengembangkan pola hidup sehat. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan makan bersama keluarga, terutama di malam hari, terbukti dapat meningkatkan kecenderungan remaja untuk mengkonsumsi makanan sehat dan mengembangkan pola hidup sehat hingga ke masa dewasa (Burgess-Champoux et al 2008, dalam Santrock 2011).

Bila ingin mengembangkan pola diet gizi seimbang pada anak remaja, maka beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua adalah:

  1. Memberikan contoh tentang pola hidup sehat, yang terdiri dari makanan bergizi, istirahat cukup, serta olah raga yang cukup.
  2. Bantu remaja mengembangkan body image yang sehat, bahwa yang terpenting adalah sehat, bukan kurus atau gemuk. Berikan pemahaman kepada anak bahwa tiap orang memiliki karakter fisik yang berbeda.
  3. Luangkan waktu rutin untuk makan malam bersama keluarga.
  4. Libatkan anak dalam variasi kegiatan yang memadai, terutama yang melibatkan aktivitas fisik.
  5. Diskusikan dengan dokter atau ahli gizi bila ada diet tertentu yang ingin dilakukan oleh anak. Bekali diri orangtua dan anak dengan informasi yang valid dan terpercaya, tidak hanya berdasarkan informasi di internet.

Remaja yang memiliki body image negatif dan melakukan diet tanpa pengawasan dokter ataupun pendampingan orangtua dapat beresiko mengalami gangguan makan, anorexia nervosa (gangguan makan dengan membuat diri kelaparan agar menjadi kurus) atau bulimia nervosa (gangguan makan dengan pola binge-and-purge). Beberapa gejala dari seseorang mengalami gangguan makan adalah (1) memiliki berat badan kurang dari 85% berat badan normal; (2) ketakutan berlebih terhadap kenaikan berat badan; dan (3) pandangan yang terdistorsi terhadap bentuk tubuhnya, bahwa terlepas dari seberapapun kurusnya seseorang, ia tetap melihat dirinya gemuk. Apabila orangtua melihat adanya gejala atau resiko remaja mengalami gangguan makan, maka segeralah ambil tindakan dengan mengajak anak berdiskusi dan membawanya konsultasi ke tenaga profesional.

 

Daftar Pustaka

http://www.hukor.depkes.go.id/uploads/produk_hukum/PMK%20No.%2041%20ttg%20Pedoman%20Gizi%20Seimbang.pdf

Santrock, John W. 2011. Life-span development: 13th Edition. New York: McGraw Hill.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>