Benarkah Remaja Tidak Memiliki Empati?

By Nadya Pramesrani

Tidak hanya orangtua, tapi masyarakat umum pun banyak yang menilai remaja sebagai kumpulan anak-anak yang tidak peduli kepada sekitar dan berbuat seenaknya sesuai kemauannya. Bullying, kebut-kebutan di jalan, berkata kasar, melawan dan bersikap tidak sopan kepada orang lain mungkin menjadi penyebab orangtua dan lingkungan menilai remaja sebagai individu yang egois dan tidak mampu berempati kepada orang lain.

Sederhananya, empati adalah kemampuan seseorang untuk mengenali emosi yang dirasakan diri sendiri dan orang lain, sehingga mampu memahami permasalalahan dari sudut pandang lain serta berespon terhadap situasi tersebut dengan tepat. Hoffman (2000) mengemukakan bahwa sebenarnya empati sudah dimiliki seseorang sejak bayi. Bayi yang ikut menangis ketika melihat anak lain menangis adalah kemampuan empati awal yang dapat ditunjukkan oleh seseorang. Melalui contoh dan pengalaman di situasi sosial, anak mulai belajar untuk menenangkan temannya ketika sedang mengalami masalah. Seperti memeluk teman yang menangis, menawarkan mainan kesayangan untuk menenangkan teman. Bahkan sejak awal usia sekolah, anak yang terlibat aktif dalam situasi sosial dapat memahami perasaan sedih orang lain dan sudah muncul keinginan untuk melakukan sesuatu untuk membantu.

Namun kenapa justru ketika anak menginjak usia remaja, kemampuan berempatinya seperti hilang dan tidak dimunculkan? Ugo Uche, seorang konselor remaja dan dewasa muda, dalam tulisannya di Psychology Today mengemukakan bahwa di usia remaja, fokus dari tugas perkembangan yang harus diselesaikan oleh remaja adalah self mastery, menguasai keahlian tertentu yang nantinya akan membantu remaja dalam pembentukan jati diri dan penetapan karir. Sehingga, di usia  remaja ini membuat seseorang menjadi kurang sadar atas kebutuhan lingkungan (atau orang lain) dan tidak mengutamakan pentingnya secara aktif menciptakan kesejahteraan sosial.

This doesn’t mean that during the period of self mastery that a teenager lacks empathy towards his fellow human beings. On the contrary, most teenagers I have worked with have a lot of empathy towards people in their lives, to include people they don’t like. During the teen years, teenagers are concerned with becoming productive members of their respective communities. In their maturation from childhood, they typically would have come to realize that in order to become valued members of society, that they need to acquire skill sets that valued by their respective communities (Uche, 2012)

Penemuan Uche dalam pengalamannya menangani kasus remaja sejalan dengan teori perkembangan psikososial dari Erik Eriksson, yang mengemukakan bahwa di tahap perkembangan remaja, tugas perkembangan yang harus diselesaikan oleh remaja adalah pembentukan jati diri. Dengan berfokus pada dirinya sendiri, remaja harus menemukan siapa dirinya, apa peran yang ingin diambilnya di masyarakat, apa yang ia suka dan tidak suka, yang kemudian mempengaruhi penetapan jurusan kuliah serta karir yang dipilih. Dengan menemukan jati dirinya, remaja akan dapat membedakan dirinya dengan orang lain, yang tentunya di kemudian hari akan membantu seseorang dalam mengambil keputusan, tidak sekedar mengikuti apa yang dilakukan oleh orang lain. Eriksson dalam teorinya mengatakan bahwa ketika remaja tidak dapat menyelesaikan tugas perkembangannya, maka yang terjadi adalah kebingungan jati diri (identify confusion), dan ketidakmampuan remaja untuk menerima perbedaan yang ada di masyarakat.

Meski adalah hal yang “lumrah” untuk remaja bersikap seolah-olah tidak mampu berempati terhadap orang lain, bukan berarti orangtua dan guru dan masyarakat pada umumnya kemudian dapat memberikan kelonggaran kepada remaja ketika mereka bersikap tidak sopan dan tidak peduli. Pengarahan dan bantuan dari lingkungan, terutama orangtua tetap dibutuhkan namun perlu diseimbangkan juga dengan pemberian kesempatan yang memadai untuk remaja berpikir dan bertindak secara mandiri. Yang terutama dibutuhkan dari orangtua untuk sama-sama melalui masa remaja ini dengan baik adalah stok sabar yang banyak, agar bisa tetap memberikan unconditional love kepada anak remajanya.

 

Sumber:

https://www.simplypsychology.org/Erik-Erikson.html

https://www.psychologytoday.com/blog/promoting-empathy-your-teen/201209/is-it-normal-teenagers-lack-empathy

http://www.parentingscience.com/empathy-in-children-and-teens.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>