Belajar Mengantri Lebih Penting daripada Matematika

By Orissa Anggita

Antri adalah hal yang sangat penting untuk dikenalkan pada anak sedari kecil. Saya baru saja kembali dari Singapura. Oh sungguh-sungguh saya mendambakan masyarakat Indonesia bisa mengantri seperti itu. Beli jajanan di pinggir jalan saja, atau di toilet umum, walau tidak ada garis pembatasnya, otomatis pengunjung akan membentuk antrian. Sekalipun selama di sana saya tidak pernah melihat adanya serobot menyerobot. Sangat membuat tenang karena meskipun antri panjang kita tidak perlu selalu waspada apakah akan ada yang menyelak. 

Sementara dalam banyak kesempatan di Indonesia, seringkali saya khawatir akan ada orang yang seenaknya menyerobot. Jadi survival mode on. Kejadian terakhir yang sangat buat kesal adalah ketika di bandara Malang. Sedang antri check-in, antrian sempat terhenti beberapa lama. Selidik punya selidik, ternyata penumpang yang berada pada antrian paling depan (yang sudah selesai check-in, sudah closing), eh ada temannya baru datang tidak mau antri jadi langsung ke depan daannnn bawaannya itu banyakkk ada lebih dari 10 dus dan koper. Astagaaaa.

Saya suka tidak habis pikir, apa ya yang ada di benak orang-orang ini? Bahkan setelah diprotes pun tidak kemudian merasa bersalah dan mengantri dari belakang, malah pura-pura tidak tahu. Ternyata lagi, orang ini sepesawat dengan saya, dan jam terbangnya itu masih cukup lama (mungkinnnn kalau pilihannya adalah ketinggalan pesawat masih bisa ditoleransi ya). Sedih sekali bahwa antri belum bisa jadi budaya.

Apa sih pelajaran yang bisa dipetik dari antri? Banyak sekali! Saya mau share satu artikel yang pernah saya baca (maaf sumber aslinya belum berhasil saya lacak namun isi artikelnya bagus sekali dan spot on untuk bahan renungan).

Seorang guru di Australia pernah berkata “Kami tidak terlalu khawatir jika anak-anak sekolah dasar kami tidak pandai Matematika, kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai mengantri.”

Sewaktu ditanya mengapa dan kok bisa begitu ?

Inilah jawabannya:

“Karena kita hanya perlu melatih anak selama 3 bulan saja secara intensif untuk bisa Matematika, sementara kita perlu melatih anak hingga 12 tahun atau lebih untuk bisa mengantri dan selalu ingat pelajaran berharga di balik proses mengantri. Karena tidak semua anak kelak akan berprofesi menggunakan ilmu matematika kecuali TAMBAH, KALI, KURANG DAN BAGI. Sebagian mereka anak menjadi penari, atlet olimpiade, penyanyi, musisi, pelukis dsb. Karena biasanya hanya sebagian kecil saja dari murid-murid dalam satu kelas yang kelak akan memilih profesi di bidang yang berhubungan dengan Matematika. Sementara SEMUA MURID DALAM SATU KELAS ini pasti akan membutuhkan etika moral dan pelajaran berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka kelak.”

”Memang ada pelajaran berharga apa dibalik MENGANTRI ?”

”Oh iya banyak sekali pelajaran berharganya.”

 

“Anak belajar manajemen waktu jika ingin mengantri paling depan datang lebih awal dan persiapan lebih awal.

Anak belajar bersabar menunggu gilirannya tiba terutama jika ia di antrian paling belakang.

Anak belajar menghormati hak orang lain, yang datang lebih awal dapat giliran lebih awal dan tidak saling serobot merasa diri penting.

Anak belajar kreatif untuk memikirkan kegiatan apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebosanan saat mengantri, baca buku misalnya. 

Anak bisa belajar bersosialisasi menyapa dan mengobrol dengan orang lain di antrian.

Anak belajar tabah dan sabar menjalani proses dalam mencapai tujuannya.

Anak belajar hukum sebab akibat, bahwa jika datang terlambat harus menerima konsekuensinya di antrian belakang.

Anak belajar disiplin, teratur dan kerapian.

Anak belajar memiliki RASA MALU, jika ia menyerobot antrian dan hak orang lain.

Anak belajar bekerjasama dengan orang-orang yang ada di dekatnya jika sementara mengantri ia harus keluar antrian sebentar untuk ke kamar kecil.

Anak belajar jujur pada diri sendiri dan pada orang lain.”
Setujuuu banget sama pemikiran itu. Makanya di kelas bermain Rumah Dandelion, sedari 1 tahun pun sudah kami biasakan mengantri. Tentu ini bukan hal yang mudah. Saat diminta berbaris untuk mengambil mainan atau antri cuci tangan, anak seringkali tidak sabar dan belum terlalu aware dimana harus mengantri. Di sinilah peran besar dari orangtua dan guru untuk mengarahkan dan menunjukkan apa sih yang dimaksud dengan antri itu,

“Ah namanya juga anak-anak, wajar kan begitu.” Ya memang wajar, namun bukan berarti dibiarkan. Untuk anak yang pemahaman verbalnya masih terbatas pun, mereka punya kemampuan berpikir kok dan bisa belajar. Ketika dibilang “Antri yaa..Cita di belakang Rina ya. tadi Rina lebih dulu. Sabar antri ya..” sambil badannya ditahan dan tidak bisa mendapat barang bila memang belum gilirannya, lama kelamaan anak akan melihat polanya. Kalau orang terdekatnya tidak pernah memberi feedback bahwa menyerobot itu tidak baik, atau bahkan menyuruh anak untuk menyerobot karena dianggap masih kecil (believe me, pernah lho ada yang begini) ya bagaimana mereka belajar tentang benar dan salah bukan?

Sistem itu sangat penting dalam menunjang terciptanya budaya antri. Sistem juga harus mau mengedukasi orang untuk antri dan bersikap tegas. Seperti kejadian di bandara tadi. Seandainya petugas bandaranya tidak meladeni, tentu penumpang tadi mau tidak mau terpaksa antri. Well, walau seharusnya sih sudah dewasa punya kesadaran antri sendiri ya. Mungkin karena dari kecilnya tidak pernah dibiasakan mengantri?

Kalau Anda bagaimana? Sudahkan antri jadi budaya keluarga Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>