Bayi Bisa Bicara? Mengenal Seluk-Beluk Baby Sign

By Rumah Dandelion

Bayi        : “uuh..uhh…” (sambil menarik-narik baju ibu)

Ibu         : Adik mau apa?

Bayi        : “uuh…uhh…” (tunjuk ke arah rak di belakang ibu)

Ibu         : (menoleh ke belakang dan mengambil mobil-mobilan) “Adik mau mobil-mobilan?”

Bayi        : (geleng-geleng)

Ibu         :  “Oh bukan? Atau mungkin adik mau baca buku ini?”

Bayi        : (geleng-geleng)

Ibu         : “Boneka anjing ini?”

Bayi        : (mengulurkan tangan ke arah boneka)

 

——————–

 

Sebelum bayi bisa bicara dengan kata-kata, ia sudah bisa loh diajak berkomunikasi. Bayi bisa ‘bicara’, mengungkapkan apa yang ia inginkan dengan dengan menunjuk dan menyatakan ketidaksetujuannya dengan menggeleng. Pintar ya! Ini adalah bagian dari bahasa isyarat bayi (baby signs).

 

Apa itu bahasa isyarat bayi?

Bahasa isyarat bayi adalah gerakan-gerakan sederhana menggunakan anggota tubuh.  Mengapa sederhana? Karena kemampuan motorik bayi pun masih terbatas. Bahasa isyarat bayi ini mudah untuk ditiru oleh bayi dan punya fitur yang mirip / dekat dengan obyek aslinya, misal gerakan menghirup untuk bunga, menghisap jempol untuk minum, dan menjulurkan lidah untuk anjing. Ini agak berbeda dengan bahasa isyarat untuk penyandang tuna rungu atau tuna wicara yang lebih kompleks.

 

Apa manfaat bahasa isyarat bayi?

Setiap manusia, termasuk bayi, punya kebutuhan untuk mengekpresikan diri dan dipahami oleh orang lain. Terutama bayi yang masih sangat mengandalkan orang dewasa untuk memenuhi kebutuhan dan keinginannya, menjadi penting untuk membekali dirinya dengan ‘alat komunikasi’ di samping kata-kata. Sebenarnya secara naluriah, orangtua sudah melakukan ini kok. Pernah tidak kita ajarkan anak untuk mengedipkan mata saat ditanya “mana mata genitnya?”, atau melambaikan tangan untuk berkata “dadahhh” saat berpisah dengan orang lain? Tanpa kita sadar, kita telah menggunakan bahasa isyarat.

 

Kembali ke contoh situasi di atas, bila orangtua telah mengajari bayi bahasa isyarat untuk anjing, akan lebih mudah mengetahui apa maksud bayi dan menghemat waktu karena mengurangi coba-coba. Apalagi saat bayi merasa sakit, kemampuannya untuk menyampaikan itu bisa membuat orangtua bertidak lebih cepat dan tepat. Ketika bayi merasa didengar dan apa yang ia butuhkan dipenuhi, ia akan menjadi lebih nyaman, bahagia, dan percaya diri. Orangtua dan bayi pun sama-sama bisa mengurangi frustrasi.

 

Kadang orangtua bertanya-tanya apa bayinya memahami  apa yang terjadi di sekitarnya. Bahasa isyarat juga memungkinkan orangtua melihat bahwa bayi punya kemampuan belajar dan sangat pintar dalam menyerap berbagai hal, bahkan sebelum usia 1.5-2 tahun (usia dimana perkembangan bahasa verbal biasanya paling terlihat). Penelitian menunjukkan bahwa bayi yang bisa menggunakan bahasa isyarat, punya perkembangan bahasa ekspresif yang lebih baik. Mereka bisa berbicara lebih dahulu dan punya kosa kata yang lebih banyak daripada bayi seusianya yang tidak mengenal bahasa isyarat.

 

Kapan bayi bisa mulai diajari bahasa isyarat?

Jika jawaban atas pertanyaan-pertanyaan berikut sebagian besar adalah ‘ya’, itu menunjukkan waktu yang baik untuk mulai mengajari bayi bahasa isyarat.

  • Apa bayi sudah berusia setidaknya 6 bulan?
  • Apa bayi sudah mulai menunjuk-nunjuk?
  • Apa bayi suka memberi suatu mainan/benda ke orangtua dan seolah menunggu respon?
  • Apa bayi sudah mulai melambaikan tangan?
  • Apa bayi sudah mulai mengangguk/ menggelengkan kepala sebagai jawaban ya/ tidak?
  • Apa bayi mulai menunjukkan ketertarikan pada gambar-gambar di buku?
  • Apa bayi terlihat frustrasi saat orangtua/pengasuh tidak paham apa yang ia mau?

Menurut penelitian, kebanyakan bayi tertarik pada bahasa isyarat antara usia 9-12 bulan. Namun ini bukanlah patokan usia yang ajeg. Amatilah bayi kita dan apa ia sudah tampak tertarik untuk berkomunikasi lebih jauh.

Saat kita sudah mengajari bayi bahasa isyarat, jangan langsung berharap bayi bisa menirukan gerakan dan menggunakannya ya. Untuk bisa membuat gerakan bahasa isyarat dengan tepat, bayi harus (1) punya pemahaman akan hubungan antara gerakan dengan bendanya (2) punya kemampuan motorik untuk menirukan gerakan (3) punya kapasitas memori yang memadai untuk mengingat gerakan tertentu dan untuk apa gerakan tersebut. Jadi boleh saja kita mengenalkan ke bayi dari sebelum 6 bulan, percaya bahwa bayi merekam dalam otaknya, namun harus lebih sabar-sabar menunggu sampai bayi menggunakannya secara aktif.

Kalau bayi kita sudah mulai mengucapkan kata-kata bagaimana? Apa sudah terlambat untuk belajar bahasa isyarat bayi? Menurut hasil penelitian, bayi bisa mendapat manfaat dari penggunaan bahasa isyarat ini kapanpun dimulainya antara lahir hingga usia 2.5 tahun. Perbendaharaan kata bayi di awal mulai bicara biasanya masih sedikit, berupa kata tunggal, dan yang secara artikulasi mudah diucapkan seperti mama, minum, bobo, jatuh, atau bola. Jadi untuk kata-kata yang lebih kompleks seperti prosotan dan kanguru, atau menyatakan keinginan main di luar rumah dan mengucapkan terima kasih,  bahasa isyarat akan membantu.

Tips untuk mengajari bayi bahasa isyarat

1)      Mulai sedikit demi sedikit, misalnya 3-4 gerakan. Hal ini lebih untuk membiasakan orangtua untuk membuat gerakan sambil berbicara.

2)      Selalu ucapkan katanya ketika menggunakan bahasa isyarat, dan menunjuk bendanya untuk mengarahkan perhatian bayi. Contoh, tunjuk lampu lalu ucapkan “lampu” sambil membuat gerakan membuka dan menutup kedua telapak tangan (bahasa isyarat untuk lampu). Bayi akan belajar hubungan antara gerakan tangan – benda, kata – benda, gerakan tangan – kata.

3)      Gunakan berulang-ulang dalam keseharian, repetisi adalah kunci. Ketika melihat kucing, katakan sambil membuat bahasa isyarat untuk kucing “wah ada kucing. Adek lihat kucingnya? Kucing…halo kucing..”  Repetisi membantu bayi mengenali kata yang penting untuk diingat.

4)      Gunakan sesuai konteks. Ajarkan bahasa isyarat untuk ‘makan’, ‘minum’, ‘tambah’, ‘susu’, dan ‘sudah’ saat makan; ‘tidur’, ‘sikat gigi’, dan ‘ganti popok’ saat menjelang tidur; ‘matahari’, ‘pohon’, ‘sepatu’, dan ‘mobil’ saat mau berjalan-jalan ke taman.

5)      Ajarkan bahasa isyarat yang berhubungan dengan keamanan diri seperti ‘sakit’, ‘panas’, ‘stop’, dan ‘tolong’, serta yang berhubungan dengan anggota keluarga ‘mama’, ‘papa’, ‘bayi’, dan ‘sayang’.

6)      Jadikan ini sebagai permainan yang menyenangkan, dan karena ini bukan bahasa isyarat formal, orangtua juga boleh banget menciptakan gerakan sendiri loh. Seru kan

Selamat mencoba!!

 

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi

Sumber:

Acredolo, Linda & Goodwyn, Susan. 2002. Baby Signs: How to Talk with Your Baby Before Your Baby Can Talk. USA: McGraw-Hill.

Farndon, John. 2013. Super Bright Baby: 50 Things You Really Need to Know. London: Quercus Publishing

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>