Bagaimana Mengembangkan Resiliensi Anak

By Rumah Dandelion

Sebagai orang tua, kita pasti menginginkan agar anak kita dapat tumbuh menjadi pribadi yang tangguh. Tugas kita, sebagai orang tua, adalah bagaimana membantu mereka mempersiapkan diri untuk tidak mudah menyerah dan mau segera bangkit dari kegagalan atau tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan.

Dalam dunia psikologi, istilah resiliensi digunakan untuk menyatakan kemampuan individu pulih dari kesulitan atau tantangan yang dihadapi. Individu dengan resiliensi yang baik tidak hanya sanggup untuk bounce back atau bangkit dan melompat kembali dari kegagalan, namun bersedia untuk melakukan usaha yang lebih dari yang sebelumnya mereka lakukan.

Nah, apa ya yang bisa kita lakukan dan katakan kepada anak kita untuk membantu mereka mengembangkan resiliensi diri?

 

Memberi Pujian dengan Efektif

Cara kita memuji sangat berpengaruh pada konsep diri dan pola pikir anak. Pujilah anak dengan berfokus atas usaha atau kerja keras yang telah mereka lakukan. Misalnya saja ketika anak berhasil meraih nilai baik di sekolah, alih-alih memuji bakat atau kemampuannya, kita dapat mengatakan “selamat ya kak, ini adalah hasil kerja keras Kakak”, dan tidak semata-mata berkata “wah, kakak pintar ya” atau. Dengan memberikan penekanan pada usaha, kita mengajarkan pada anak bahwa hasil yang ia peroleh adalah buah dari usahanya belajar, bukan semata-mata bakat atau kemampuannya, dan bahwa potensi yang ia miliki masih harus dikembangkan (melalui usaha dan belajar) sehingga akhirnya dapat memperoleh hasil yang baik.

 

Berbicara mengenai Potensi Otak Manusia

Orang tua dapat mengajak anak berdiskusi bahwa kita dapat menstimulasi otak kita. Dengan berbagai usaha dan kerja keras seperti belajar atau berlatih dengan intensif, bagian-bagian otak tertentu akan semakin bekerja dengan optimal. Sebaliknya, jika tidak pernah berlatih atau belajar, sehebat apapun potensinya tidak akan terasah, dan tidak bisa berharap untuk mendapat hasil optimal.

 

Menjadikan Kesalahan atau Kegagalan Sebagai Kesempatan untuk Belajar

Orang tua dapat menjadi model bagi anak dalam mencontohkan hal ini. Kita bisa bercerita mengenai proses usaha dan kegagalan yang mungkin pernah kita alami. Dengan demikian, anak belajar bahwa membuat kesalahan adalah hal yang lazim terjadi dalam proses belajar. Ingatkan anak bahwa kita berkembang melalui proses usaha dan belajar terus-menerus, dan tidak ada proses belajar yang sempurna atau tanpa kesalahan.  

 

Sumber:

https://www.mindsetworks.com/parents/growth-mindset-parenting

https://psychcentral.com/lib/what-is-resilience/

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S1878929316302183

https://www.psychologytoday.com/intl/blog/seeing-what-others-dont/201605/mindsets

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>