Bagaimana Membantu Mengembangkan Regulasi Diri Anak

By Rumah Dandelion

Sebagai orang tua, pasti pernah, ya kita melihat anak melakukan tantrum atau mengekspresikan emosinya secara berlebihan, misalnya marah-marah atau merajuk. Hal itu sebenarnya wajar jika sesekali terjadi pada anak berusia sekitar dua tahun. Namun, semakin besar, anak diharapkan untuk mampu mengontrol emosinya dan mengekspresikannya dengan tepat.

Regulasi diri adalah kemampuan untuk memahami dan mengendalikan perilaku serta bagaimana kita mengekspresikan emosi dengan tepat terhadap hal-hal yang terjadi di sekeliling kita. Ketika mengalami kesulitan dalam mengerjakan suatu aktivitas, anak dengan regulasi diri yang baik akan mampu mengungkapkan apa yang mereka rasakan serta memilih tindakan yang dapat mereka lakukan, misalnya dengan mencoba kembali atau meminta bantuan dari orang lain. Sebaliknya, jika anak memiliki masalah dalam regulasi dirinya, ia bisa melampiaskan kekesalannya dengan berteriak, marah-marah, atau menyerah begitu saja.

Regulasi sangat penting dimiliki oleh anak. karena hal itu dapat membantu anak untuk mengikuti proses belajar dengan baik di sekolah (duduk diam dan menyimak guru), menampilkan perilaku yang tepat di lingkungan sosial dan berinteraksi dengan teman-temannya, menjadi mandiri, serta bagaimana nantinya ia dapat mengelola stress serta bereaksi terhadap berbagai tantangan yang akan mereka hadapi di masa depan.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan untuk membantu anak mengembangkan regulasi dirinya?

Untuk balita

  • Berespon dengan cepat dan tepat saat bayi menangis, misalnya dengan memeluk dan menenangkan bayi. Pengalaman awal akan dimaknai oleh bayi untuk belajar bagaimana ia mulai menenangkan dirinya sendiri, misalnya saja dengan mengisap jempolnya. Hal itu dapat menjadi tanda awal bagi bayi untuk melakukan usaha meregulasi dirinya sendiri
  • Mengajarkan berbagai emosi misalnya melalui cerita dan buku bergambar emosi. Ajak anak untuk mampu mengenal emosi yang mereka rasakan saat itu. Hal selanjutnya yang dapat dilakukan adalah respon apa yang tepat untuk ia lakukan terkait dengan emosi yang ia rasakan.
  • Di usia ini, anak banyak belajar melalui aktivitas bermain. Orang tua dapat mengajak melakukan aktivitas yang membutuhkan anak mengikuti aturan sederhana, misalnya bermain permainan mengantri atau bergiliran, atau melakukan aktivitas di mana anak harus mengikuti aturan sederhana, misalnya orang tua memasang music dan menari bersama anak, dan ketika musik berhenti, baik anak dan orang tua melakukan freeze sejenak.
  • Puji anak tiap kali ia berhasil menaati aturan dengan baik, misalnya bersedia menunggu giliran saat bermain atau meminta sesuatu dengan baik.

Untuk anak usia sekolah

  • Berempati pada apa yang anak rasakan. Anak juga merasa butuh untuk didengarkan dan dimengerti.
  • Mengajarkan anak untuk melakukan teknik relaksasi sederhana seperti menarik dan menghembuskan napas panjang selama sepuluh kali saat ia merasa kesal atau merasakan emosi negatif lainnya
  • Ajar anak untuk mengenal hal-hal yang bisa membuatnya tenang saat mengalami stress atau emosi negatif. Beberapa anak misalnya butuh untuk berada di tempat yang tenang tanpa banyak suara. Beberapa lainnya butuh melakukan gerakan fisik sederhana seperti menjentikkan jarinya atau mengunyah permen karet. Semakin baik anak mengenal dirinya, maka ia akan semakin tahu dapat melakukan apa untuk mengatur emosinya

Untuk remaja

  • Sempatkan waktu untuk berolahraga. Olah raga memberikan banyak manfaat bagi tubuh secara fisik maupun mental. Beberapa olahraga yang mengandung unsur meditasi seperti yoga secara khusus dapat membantu remaja dalam menenangkan diri serta mengelola emosi mereka.
  • Mengajarkan anak melakukan self-reflection, misalnya saja anak dapat menuliskan apa yang ia rasakan saat itu, apa yang ia inginkan, dan apa yang ia bisa lakukan untuk membuat situasi atau perasaannya lebih baik.

 

Yang patut diingat, setiap anak adalah berbeda dan beberapa anak mungkin dapat melakukan regulasi diri dengan lebih mudah dibanding anak-anak lainnya. Bahkan kita sebagai orang dewasa pun terkadang masih belajar untuk meregulasi diri dengan lebih baik lagi. Namun jika menurut anda ada hal yang mengkhawatirkan mengenai regulasi diri anak anda, tidak ada salahnya jika melakukan konsultasi dengan ahli terkait.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>