Bagaimana Cara Membantu Remaja Berempati?

By Nadya Pramesrani

Dalam artikel Benarkah Remaja Tidak Memiliki Empati?” sudah dibahas tentang kenapa remaja cenderung menampilkan perilaku yang seolah-olah egois dan tidak peduli terhadap orang lain dan lingkungannya. Meski sudah dipahami kenapanya, adakah yang bisa dilakukan, terutama oleh orangtua, untuk dapat menumbuhkan dan memuncullkan perilaku empati pada remaja? Orangtua dengan anak usia remaja, terutama di rentang usia 12 – 18 tahun dapat mencoba melakukan beberapa hal dibawah ini.

  1. Diskusi tentang sudut pandang lain. Kemampuan seseorang untuk memaham sudut pandang orang lain (perspective taking) masih terus berkembang hingga usia 21 (Shellenbarger, 2015). Hasil penelitian menemukan bahwa anak yang sering berdiskusi dengan orangtua tentang kondisi dan situasi orang lain dapat membantu anak menjadi lebih mampu berempati. Diskusi yang dilakukan bisa atas kejadian yang terjadi di dekat anak, misal ketika anak bercerita ada salah satu temannya yang hari ini di sekolah diledek oleh teman-temannya karena mengenakan pakaian yang berbeda. “Kira-kira apa yang akan kamu rasakan kalau kamu mengalami seperti yang dialami temanmu?” atau “Bila kamu berada di situasi seperti hari ini lagi, apa yang bisa kamu lakukan untuk membantu teman yang diledek?” adalah contoh pertanyaan yang bisa dijadikan bahan diskusi antara anak dengan orangtua.
  2. Keterlibatan dan keterbukaan ayah sebagai tempat anak bercerita. Sebuah penelitian psikologi perkembangan terhadap anak laki-laki usia 15 – 18 tahun menemukan bahwa remaja yang memiliki ayah yang mendukung (supportive), ayah yang bisa memberikan perasaan tenang dan lega ketika bercerita tentang kekhawatiran yang dirasakan remaja, membentuk remaja laki-laki yang lebih baik dalam memahami sudut pandang orang lain. Hindari respon-respon yang meremehkan ataupun respon yang “menuntut” remaja laki-laki untuk menjadi “lebih jantan” ketika remaja laki-laki tersebut sedang bercerita tentang kekhawatiran maupun masalah emosional lainnya.
  3. Libatkan anak dan kelompok pertemannya dalam aktivitas sosial. Di usia remaja, teman adalah segalanya. Remaja akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama teman-temannya dibanding dengan keluarga dan oranguanya. Untuk meningkatkan rasa kepedulian anak terhadap orang lain dan lingkungan sosial, libatkan anak dalam aktivitas sosial seperti membantu korban bencana, memberikan bantuan kepada fakir miskin, ataupun membuat aktivitas mengajar/membaca dongeng kepada anak jalanan, dan aktivitas lainnya. Buat kegiatan ini menjadi kegiatan bersama anak dengan kelompok pertemanannya. Daripada orangtua “berkelahi” memaksa remaja untuk terlibat dalam kelompok sosial yang ada, orangtua (bisa juga bekerja sama dengan orangtua lainnya) bisa secara aktif mengkoordinir dan mengarahkan anak bersama teman-temannya untuk berinisitasi melakukan kegiatan sosial.
  4. Walk the talk. Anak- anak dan remaja belajar paling baik melalui pengalaman dan contoh. Untuk anak remaja bisa berempati, memahami apa yang dirasakan oleh orang lain dan berespon yang tepat atas situasi, maka orangtua pun perlu mencontohkan kemampuan ini kepada remajanya. Berempati terhadap permasalahan yang sedang dialami remaja, terkait pertemanan, sekolah, dan isu sosial lainnya serta berespon sesuai dengan kebutuhan emosional anak.
  5. Pengawasan dan pemberian kesempatan yang seimbang. Banyak ditemui kasus-kasus dimana orangtua dengan anak usia remaja “tidak siap” dengan kenyataan bahwa anaknya mulai menunjukkan kemandirian. Orangtua merasa berat untuk melepaskan anak dan merelakan mereka meluangkan waktu lebih banyak bersama kelompok pertemanan dengan dalih “takut berteman dengan kelompok yang negatif”. Ketika orangtua bisa memberikan kesempatan dan otonomi yang sesuai dengan kebutuhan remaja, maka kualitas hubungan remaja dengan orangtua juga akan minim konflik. Dimana hal ini kemudian akan membuat remaja akan lebih terbuka kepada orangtua, dan orangtua bisa lebih mudah memberikan pengarahan kepada remajanya.

Penerimaan terhadap “keunikan perilaku” remaja dan pemberian unconditional love dari orangtua terhadap remaja menjadi kunci penting yang dapat menjaga kualitas hubungan remaja dengan orangtua. Dengan terciptanya hubungan yang harmonis, maka orangtua akan bisa dengan lebih menjalani peran pengawas dan teman diskusi bagi remajanya, yang pada akhirnya juga akan membantu remaja berempati terhadap orang lain dan lingkungan sekitar. Happy parenting!

 

Source:

http://www.parentingscience.com/empathy-in-children-and-teens.html

https://www.wsj.com/articles/teens-are-still-developing-empathy-skills-1381876015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>