Bagaimana Cara Marah yang Baik?

By Rumah Dandelion

Marah adalah hal yang manusiawi dan wajar untuk dialami oleh siapa pun. Ketika ada suatu kondisi yang berjalan tidak sesuai dengan keinginan kita, umum untuk kemudian kita merasa marah atau kesal. Tidak seperti orang dewasa, anak-anak belum mampu mengekspresikan marahnya dengan tepat. Seringkali mereka marah dengan cara berteriak, menangis, memukul, menendang, atau kegiatan agresif lainnya yang bisa menyakiti diri sendiri atau pun orang lain. Pada dasarnya, anak-anak mengekspresikan marahnya dengan cara demikian karena mereka belum tahu bagaimana caranya marah yang baik.

Pada acara Kumpul-kumpul di Rumah Dandelion 7 Desember 2014 yang lalu, anak-anak dan orangtua dikenalkan dengan tiga cara untuk mengekspresikan rasa marah yang baik, yaitu Turtle Technique, Butterfly Hugs, dan Build ‘n Smash! Seperti apa sih cara-caranya?

Turtle Technique

Turtle Technique

Melalui teknik ini, anak diajarkan untuk menenangkan diri dengan berhenti dan mengucapkan mantera yang dapat menenangkan diri. Tujuan dari teknik ini adalah anak dilatih untuk menarik diri dari situasi yang membuatnya marah, bersembunyi dan mencari ketenangan seperti kura-kura masuk ke dalam tempurungnya, dan menenangkan diri. Alat yang dibutuhkan untuk teknik ini adalah sarung, selimut, selendang, kardus, atau barang-barang lain yang bisa dimanfaatkan anak untuk menyembunyikan kepalanya. Langkah-langkah pelaksanaan teknik ini adalah:

  1. Dalam situasi marah, anak bersama orangtua sama-sama menutup kepalanya kedalam selimut/sarung.
  2. Orangtua membantu anak menenangkan diri dengan menghitung satu sampai sepuluh dengan nada yang tenang dan suara halus.
  3. Orangtua mengucapkan mantera yang bisa membantu anak untuk lebih tenang, seperti “saya tenang, saya tenang, saya tenang.” Perlu diingat bahwa mantera yang dibuat sebaiknya singkat, padat, dan hindari kata “tidak” seperti “saya tidak marah”, Penataan kalimat yang positif akan lebih mudah menenangkan dibandingkan penataan kalimat negatif.
  4. Ketika anak sudah tenang, anak diminta untuk keluar dari sarung/selimut dengan senyum dan semangat untuk semakin menguatkan perasaan tenang yang sudah dimunculkan.
  5. Setelah tenang dan kembali tersenyum, baru orangtua membantu anak mengidentifikasi apa yang menjadi penyebab kemarahannya.

Turtle Technique dengan Sarung

Butterfly Hug

Semua orang senang dipeluk! Anak kecil, orang dewasa, kakek nenek, apalagi saat sedang marah. Pelukan memang memberi efek menenangkan dan nyaman, sehingga paling ampuh untuk menenangkan anak yang sedang marah. Namun, tidak selalu anak bersama orangtua atau orang dewasa lainnya yang bisa memberikan mereka pelukan kapan saja mereka merasa marah. Butterfly hug adalah salah satu teknik yang mengajarkan anak untuk mandiri memeluk diri sendiri, sehingga bisa menenangkan dirinya sendiri tanpa bantuan orang lain. Untuk mengajarkan teknik ini kepada anak, tahapnya adalah:

  1. Di awal, anak biasanya menolak untuk memeluk diri sendiri. Mereka lebih memilih untuk dipeluk orang dewasa saja. Orangtua bisa membiasakan anak dengan meminta anak meletakkan tangan kanan di pundak kiri dan tangan kiri di pundak kanan, dengan orangtua ikut memeluk anak dari samping/belakang
  2. Orangtua melakukan gerakan berulang yang sederhana, seperti menggoyangkan badan ke samping dengan halus sambil menyanyikan lagu yang menenangkan, seperti lagu I Love You-nya Barney.
  3. Mengulangi cara ini sampai anak terbentuk asosiasi yang menenangkan antara gerakan tangan kanan di pundak kiri dan tangan kiri di pundak kanan serta lagu yang menenangkan tersebut.

Butterfly Hug

Build and Smash!

Ketika marah, seringkali kita merasakan dorongan energi yang membuat kita ingin memukul atau menghancurkan sesuatu. Dorongan ini alamiah dirasakan sehingga anak perlu diajarkan untuk tahu bagaimana menyalurkan dorongan ini tanpa menyakiti atau melukai orang lain. Salah satu yang bisa dilakukan adalah menyediakan satu sarana dimana anak memang diizinkan untuk membangun sesuatu yang merepresentasi hal yang membuatnya marah, lalu menghancurkan. Yang dibutuhkan hanyalah sebuah media khusus, seperti balok tumpuk, mainan Lego, atau beberapa gelas plastik. Tetapkan satu tempat di rumah yang memang khusus ditunjuk menjadi “pojokan marah”. Setiap kali anak marah dan butuh sarana untuk mengeluarkan dorongannya, arahkan ia untuk ke tempat tersebut dan mintalah untuk membangun sesuatu menggunakan media yang sudah disediakan, lalu hancurkan. Kegiatan ini bisa dilakukan berulang kali hingga anak merasa lebih tenang.

Smash

Satu hal yang perlu diingat adalah media yang digunakan untuk dibangun dan dihancurkan ini adalah media yang hanya boleh digunakan anak ketika ia sedang marah. Hal ini dibutuhkan untuk membantu anak membedakan situasi kapan ia sedang marah dan kapan ia sedang bermain. Pojokan marah ini juga berguna bagi orangtua yang sehari-harinya bekerja dan meninggalkan anak bersama pengasuh/orang dewasa lainnya. Dengan adanya pojokan marah, pengasuh juga bisa lebih peka dalam mengenali kapan anak sedang marah, dan bisa melaporkannya kepada orangtua untuk nanti dibahas lebih lanjut bersama anak.

Tiap anak akan berespon lebih baik pada satu strategi dan tidak pada strategi lainnya. Orangtua dan anak perlu untuk bersama-sama mencari tahu strategi mana yang dirasa paling tepat. Satu hal yang harus dilakukan terutama oleh orangtua adalah secara konsisten meminta anak untuk melakukan cara marah yang baik setiap kali anak marah, agar terbentuk pola kebiasan yang baik pula. Selamat mencoba!

3 thoughts on “Bagaimana Cara Marah yang Baik?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>