Apakah Anak Remajaku Aktif Secara Seksual?

By Rumah Dandelion

Mayoritas orangtua akan menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban tidak. Tidak aktif atau tidak tahu? Sekali lagi, mayoritas orangtua juga mungkin tidak tahu seberapa jauh aktivitas seksual yang telah dilakukan oleh anaknya selama ini. Untuk menyamakan persepsi, yang dimaksud dengan aktivitas seksual disini tidak terbatas pada aktivitas intercourse atau sanggama, penetrasi penis ke dalam vagina. Tapi juga termasuk aktivitas seksual yang lebih luas seperti masturbasi, berciuman, petting, seks oral, hingga sanggama.

Remaja merupakan masa dimana seorang anak akan bereksplorasi, tidak hanya secara minat dan bakat tapi juga di aspek seksualitas, baik aktivitas yang berupa stimulasi sendiri maupun berpasangan (Crook & Baur, 1999). Pada masa remaja, pubertas juga membuat dorongan seksual pada remaja mulai aktif. Remaja putri mengalami menstruasi, remaja putra mengalami mimpi basah, yang menjadi penanda bahwa secara biologis mereka telah siap untuk bereproduksi (Papalia, 2014).

Jadi apakah anak Anda aktif secara seksual? Untuk amannya, mari kita jawab dengan IYA. Untuk amannya, sehingga kita bisa memberikan pendidikan dan pembekalan yang memadai kepada anak remaja agar mereka dapat mempraktekkkan aktivitas seksual yang aman, yaitu abstinence (tidak melakukan aktivitas seksual sama sekali bersama pasangan) atau penggunaan alat pengaman (kondom) agar tidak mengalami permasalahan seperti kehamilan di luar pernikahan atau terkena penyakit menular seksual.

Penelitian oleh Whitaker dkk (1999) mengemukakan bahwa adanya komunikasi yang positif dan terbuka antara anak remaja dengan orangtua dapat meningkatkan kesadaran remaja untuk melakukan aktivitas seksual yang aman. Sekali lagi diingatkan bahwa abstinence juga termasuk ke dalam aktivitas seksual yang aman.  Remaja yang memiliki pola hubungan yang aman dan komunikasi terbuka dengan orangtua cenderung mampu berkomunikasi dengan pasangannya untuk melakukan aktivitas seksual yang aman sehingga tidak mudah dipengaruhi oleh pasangan (misal: diancam akan ditinggalkan, diiming-imingi rasa sayang/cinta, dan alasan lainnya) atau lingkungan (tekanan dari lingkungan pertemanan yang sudah melakukan aktivitas seksual bersama pasangan).

Yang terutama sekali ingin ditekankan dalam artikel ini adalah pemahaman kepada orangtua mengenai bentuk komunikasi yang dibutuhkan agar anak remaja dapat mempraktekkan aktivitas seksual yang aman. Ketika kita dulu di masa-masa remaja tidak pernah melakukan pembicaraan mengenai seks dengan orangtua, tentu rasanya takut dan bingung bila sekarang harus mulai melakukannya dengan anak kita. Jadi apa saja yang dibutuhkan agar orangtua dapat berkomunikasi yang positif mengenai seks dengan anak remajanya?

  1. Orangtua merasa terbuka dan nyaman untuk berbicara mengenai seks
  2. Orangtua memiliki pemahaman dan informasi yang dapat dipercaya untuk membantu remaja memahami seksualitasnya. Bekali diri dengan fakta, bukan dengan mitos yang tidak dapat dipertanggungjawabkan
  3. Orangtua mampu menyusun kalimat dengan baik dan mampu berbicara dengan nada yang terdengar nyaman serta percaya diri, untuk membantu anak merasa nyaman membicarakan topik seksualitas dengan orangtua.
  4. Jawab pertanyaan anak dengan tenang dan berdasarkan fakta, kembalikan dulu ke level pemahaman mereka sampai mana, atau mulai dari apa yang sudah mereka ketahui.
  5. Sisipkan pembicaraan mengenai seks dalam kehidupan sehari-hari, misalnya dari adegan seksual yang dilihat di film atau televisi atau fenomena sosial yang sedang terjadi.

Bagi orangtua yang belum memiliki anak usia remaja, mulai biasakan diri untuk nyaman dan terbuka berbicara mengenai seks kepada anak. Bahkan praktek ini dimulai sejak anak usia dini, seperti mengajarkan anak untuk menyebut alat kelaminnya dengan sebutan penis/vagina, menjawab pertanyaan anak tentang darimana asal bayi, hingga penjelasan kepada anak tentang masa pubertas.

Selamat mencoba!

 

Sumber:

Crooks, R., & Baur, K. 1999. Our sexuality: 7th Edition. California: Brooks/Cole Publishing Company

Papalia, D. 2014. Experience human development: 13th Edition. USA: McGraw – Hill.

Whitaker, D., Miller, K., May, D., & Levin, M. 1999. Teenager partners’ communication about sexual risk and condom use: The importance of parent – teenager discussions. Family Planning Perspectives, Vol. 31. No. 3.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>