Anakku Kasar!

By Rumah Dandelion

Dulu, waktu anak saya masih berusia 1 – 1.5 tahun, ada ketakutan setiap kali mengajaknya bermain di area bermain umum. Waktu itu anak saya territorial sekali! Persis kayak bapaknya sih, memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya ya! Teritorial dalam arti kalau dia datang main masih kosong belum ada anak-anak lain, lalu ada yang baru datang dan mau ikut main, pasti dilarang. Berhubung anak saya laki-laki, melarangnya itu berani dengan mendorong, menutupi jalan, sampai meneriaki, menendang, dan memukul anak lain. Saya rasanya malu sekali, dan takut dicap orang lain sebagai “ibu yang gagal” atau “ibu yang tidak bisa mengurusi anak”. Siapa yang senasib disini?

Pelan-pelan diajari caranya bermain bersama anak lain, akhirnya di usia 2.5 tahun mulai bisa menerima orang baru dan mau bermain bersama. Tapi masalah lain muncul. Kalau mainannya diambil, dia pasti akan langsung mengeluarkan jurus langganannya berdiri – teriak – dorong – merebut balik mainannya. Anak yang merebut? Ya tergantung, ada yang menangis, ada yang kabur, ada juga yang mendorong balik. Seringnya sih anak lainnya akan pergi atau menangis, sehingga anak saya sepertinya merasa dengan bersikap kasar itu adalah cara yang pas untuk dia dapat yang diinginkan.

Ibunya diam saja? Ya tentu tidak, mulai dari diberitahu baik-baik, diberikan time out, sampai dipelototi, semuanya sudah coba dilakukan. Berhasil? Ya, berhasil. Hanya untuk 5-10 menit ke depan, lalu perilaku yang sama kembali muncul. Gemas, frustrasi, kesal, ingin menyerah, sampai menyalahkan diri sendiri karena saya jadi merasa gagal sendiri. Kalau lagi bercerita dengan sesama ibu-ibu lainnya, atau bahkan kalau lagi diskusi sama suami, ternyata perasaan “gagal” itu dirasakan berjamaah oleh para orangtua yang anak-anaknya suka kasar.

Jadi setelah buka-buka dan baca-baca lagi buku tentang psikologi perkembangan anak, ternyata adalah fase perkembangan yang “wajar”, dalam artian ada masanya memang anak rentan menampilkan perilaku agresif. Sama seperti tantrum adalah masalah perilaku yang wajar dimunculkan oleh anak usia 2 tahun, begitu juga dengan perilaku kasar di anak usia prasekolah.

Semua kembali kepada kondisi mental anak dan keterbatasan verbal yang mereka miliki. Perilaku agresif pada anak usia prasekolah rentan muncul ketika anak sedang merasa lelah, mengantuk, lapar, atau frustrasi (O’Connor, 2014). Stress yang tidak terselesaikan atau bahkan stress yang sedang dialami anak-anak bisa membuat anak frustrasi. Ketika anak merasa frustrasi, lebih sulit bagi dirinya untuk mengalihkan perhatian ataupun menenangkan diri, sehingga akhirnya bertindak agresif seperti berteriak, memukul, menggigit, dan lainnya untuk melepaskan ketegangan.

Apabila anak menunjukkan perilaku kasar apalagi cukup sering dimunculkan, pertama kali yang perlu orangtua lakukan adalah observasi. Perhatikan polanya, kapan dan dimana perilaku agresif ini sering muncul. Apakah menjelang jam tidurnya, yang mungkin menunjukkan anak sudah lelah? Apakah perilaku kasarnya hanya muncul ketika dia bermain di lingkungan rumah/sekolah? Atau, seperti anak saya, perilaku kasarnya justru sering muncul kalau dia sedang bermain bersama banyak anak-anak seumurannya yang aktif? Kalau dalam kasus anak saya, akhirnya saya mendapati pola bahwa yang terjadi sebenarnya bukan karena dia kasar/agresif, tapi karena sedang bermain dalam kelompok, overexcited karena teman-temannya seru dan permainanya menyenangkan, sampai akhirnya kalau bercanda kebablasan atau mengeluarkan tenaganya jadi kebesaran sehingga terlihat seperti memukul.

Kalau ada pola tertentu yang memunculkan perilaku kasar di anak-anak, orangtua bisa mengantisipasi dengan menghilangkan kondisi tertentu. Misalnya sebelum terlalu lelah atau lapar, anak dihentikan dulu kegiatan bermainnya untuk ia istirahat atau makan dulu. Kalau hanya muncul di situasi tertentu, misal di sekolah, coba cek ada apa di situasi tersebut atau kerja sama dengan pihak sekolah/guru si anak untuk mengantisipasinya.

Bila perilaku kasar ternyata dimunculkan kapan saja dan dimana saja, maka berikutnya yang perlu dilakukan orangtua adalah refleksi diri dan evaluasi pola hubungan ortu – anak. Bagaimana orangtua berespon terhadap perilaku kasar anak bisa juga menjadi penyebab kemunculan perilaku kasar anak di kemudian hari (Lehman, 2016). Anak adalah peniru yang unggul, sehingga bila ia berada dalam lingkungan yang kasar, fisik ataupun verbal, lebih mudah juga bagi anak untuk menampilkan perilaku yang serupa (Bandura, 1977).

Bila orangtua menyelesaikan permasalahan dengan anaknya dengan cara yang kasar, misal meneriaki atau bahkan memukulnya, maka anak pun akan memunculkan perilaku yang sama di lingkungan lainnya. Seperti yang sudah disampaikan di atas, bahwa bila anak memunculkan perilaku kasar dan agresif, maka orangtua perlu untuk merefleksi diri. Untuk apa? Tentu saja bukan untuk menyalahkan diri sendiri apalagi sampai mencap diri sendiri sebagai orangtua yang gagal, orangtua yang buruk, orangtua yang jahat! Tapi untuk mengingatkan kepada diri sendiri bahwa perubahan perlu dilakukan, dan perubahan diperlukan tidak hanya di anak, melainkan juga di orangtua. Jadikan diri sendiri sebagai agen perubahan, yang membantu anak mengembangkan perilaku penyelesaian masalah yang lebih efektif dan diterima secara sosial.

Beberapa hal yang bisa dilakukan orangtua adalah:

  1. Kenali kondisi emosi diri sendiri. Bila memang sedang “sumbu pendek” kembangkan cara meregulasi emosi diri yang efektif dan cepat, lalu bantu anak untuk mengembangkan cara alternatif mengatasi emosinya juga. Ingat, kalau naik pesawat juga selalu diingatkan, pakai masker untuk diri sendiri dulu baru bantu anak anda!
  2. Konsisten. Konsisten dalam perkataan dan perbuatan Anda, terutama dalam memberikan konsekuensi atas perilaku kasar anak. Satu waktu anak diingatkan untuk tidak kasar, tapi di kesempatan lain, anak dibiarkan.
  3. Keluarkan anak dari situasi. Tarik ia keluar sejenak dari lingkungan/situasi dimana ia memunculkan perilaku kasarnya. Hal ini terutama untuk membantunya menenangkan diri, terutama bila peringatan verbal tidak berhasil untuk membuatnya berhenti kasar.
  4. Perjanjian di depan. Ingatkan anak tentang perilaku-perilaku tertentu yang diharapkan muncul, misalnya sebelum playdate dengan teman-teman, ingatkan anak bahwa nanti ia akan bermain bersama teman-teman dan ia akan berbagi permainan yang ada. Bila anak mulai bersikap kasar, maka sesi playdate akan dihentikan sampai anak bisa kembali bermain bersama.
  5. Tenang. Ya, orangtua perlu tenang tapi juga tegas. Sama seperti menangis itu menular pada anak-anak, perasaan tenang juga dapat menular. Jadi jika orangtua ingin membantu anak tenang agar ia menghentikan perilaku kasarnya, orangtua pun perlu bersikap tenang ketika mencoba membantu anak.

Happy parenting!

 

Sumber

https://www.empoweringparents.com/article/how-to-manage-aggressive-child-behavior/#

http://www.solutionsforchildproblems.com/aggressive-behavior-children.html

www.simplypsychology.org/bandura.html

 

Foto:

https://www.google.co.id/search?hl=en&authuser=0&site=imghp&tbm=isch&source=hp&biw=1242&bih=602&q=children+fighting&oq=children+fighting&gs_l=img.3…1771.5265.0.5493.18.7.0.11.11.0.160.620.1j4.5.0….0…1ac.1.64.img..2.8.640.0..0j35i39k1.168h27lGy_I#imgrc=ZMIEp2CyvMS9EM

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>