Anak Mulai Berpacaran, Apa Yang Harus Dilakukan?

By Rumah Dandelion

Saat anak kita masih kecil, seringkali kita melihat tingkah laku lucunya dan saat tidur kita suka membelainya dan membisikkan “Don’t grow too fast, kiddo”. Terkadang kita sebagai orang tua sudah tidak sadar akan cepatnya waktu berlalu dan baru menyadari sekarang anak kita sudah beranjak remaja. Ya, Remaja… Dimana masa ini merupakan masa transisi mereka dari anak menuju dewasa dengan berbagai perubahan yang dialami oleh mereka, yakni perubahan psikologis, fisik, perkembangan seksualnya, cara berpikir, dan kehidupan sosial remaja (Geldard & Geldard, 2010).

Berbagai isu akan dihadapi orang tua saat anak remaja. Di kala anak remaja kita tidak mampu bersosialisasi, pasti orang tua akan cemas melihat bagaimana anak besar nanti. Di sisi lain saat anak remaja kita mampu bersosialisasi dengan sangat baik, orang tua akan cemas juga karena orang tua berpikir bagaimana cara anak remaja kita merespon dengan pergaulan bebas yang ada di luar sana. Serba salah ya jadi orang tua? Tapi jangan khawatir, semua orang tua pasti mengalami kecemasan yang sama mengenai hal ini. Untuk dapat mengerti remaja menurut Geldard & Geldard (2010) kita perlu belajar mengenai perkembangan remaja dulu dan memahami kacamata mereka.

A : “Ma…. Aku dianter teman ya!”

O: “Teman atau teman, nak?”

A: “Hmmmm… pacar sih” (sambil tersipu)

 

Bagi si Anak, pengakuannya kepada orang tua menjadi momen berharga bagi mereka. Legaaaaa…. Namun bagi orang tua? hal ini menimbulkan perasaan cemas dna menimbulkan banyak pertanyaan. Tapi mungkin orang tua perlu mengingat lagi kepada dirinya sendiri bahwa kita dulu mengalami fase yang sama lho! Walaupun beberapa orang tua saat ini akan berdebat “Tapi sekarang kan beda banget sama dulu. Media social banyak beredar bebas, kejahatan meningkat, orang asing lebih banyak nekat, dan lainnya!!”.

Hal ini jadi mengingatkan saya saat berkuliah dulu belajar mengenai Psikologi Remaja, dosen saya pernah berkata “Untuk tahu apa yang dirasakan anak kita, orang tua harus tau apa yang dilakukan mereka. Baca apa yang mereka baca, pelajari apa yang mereka ikuti” . Dengan begitu maraknya kebebasan berpendapat di media social saat ini, saya rasa hal itu salah satu yang dapat kita lakukan sebagai orang tua.

 

“Setiap remaja merupakan individu yang unik” – Geldard&Geldard

 

Pada dasarnya remaja saat berkembang akan mengikuti cara berpikir dan menganut nilai yang ada dalam keluarga, terutama orang tua. Faber dan Mazlish (2005) menjelaskan bahwa remaja perlu tempat untuk bisa menceritakan kecemasan mereka dan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mereka dengan orang dewasa yang tidak menghakimi, malah membantu mereka untuk menemukan jawaban yang rasional. Terdengar mudah tetapi hal ini sulit sekali untuk orang tua lakukan, untuk bersikap netral dan menjadi pendengar yang baik bagi remaja kita. Namun ternyata, hal ini salah satu jalan efektif saat menemani anak berpacaran. Menjadi teman saat anak kita mengalami patah hati atau mengalami tekanan untuk melakukan hubungan seksual sejak dini.

 

Maka bagi para orang tua, saat remaja kita berpacaran apakah kita mau menjadi teman mereka? Atau malah menjadi musuh untuk mereka?

 

Ditulis oleh : Carmelia Riyadhni, S.Psi

 

Sumber:

Faber, Adele & Mazlish, Elaine. (2005). How to Talk So Teens Will Listen So Teens Will Talk. New York: Harper Collins Publisher.

Geldard, Kathryn & Geldard, Kevin. (2010). Counselling Adolescents : The Proactive Approach for Young People Third Edition. London: Sage Publication

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>