Anak Cerdas Adalah Anak yang Bermain

By carmelia

Perkembangan anak dapat distimulasi dengan bermain. Bermain akan memperkaya hubungan syaraf  di dalam otak sehingga kemampuan belajar, memori, dan kecerdasan sosial anak pun semakin meningkat (Sunderland, 2006).  Jika bicara tentang bermain , Banyak sekali permainan yang dapat dimainkan orangtua bersama dengan anak. Kira-kira permainan apa saja yang tercetus dalam pikiran Anda? dan kapan tepatnya kita sebagai orangtua dapat bermain dengan anak?

Saat anak masih usia bayi hingga usia kelompok bermain (TK), pasti banyak sekali permainan yang diberikan kepada anak. Entah bermain dengan mainan yang dibeli dari toko ataupun bermain melalui bernyanyi atau membaca buku. Namun biasanya semakin besar anak, orangtua semakin jarang mengajak bermain. Karena waktu yang semakin terbatas (semakin anak besar, waktu di sekolah semakin lama) atau juga orangtua mulai kehabisan ide bermain.

 

Mengingat beratnya tuntutan akademik di sekolah, orangtua biasanya memilih aktivitas di luar jam sekolah yang menunjang kemampuan akademik anak misalnya les bahasa Inggris, les menggambar, les robotic, dan lainnya. Salah? Tentu saja tidak. Akan tetapi, akibatnya kebutuhan bermain anak menjadi dikesampingkan. Padahal, dengan permainan kegiatan motorik kasar, misalnya. Anak dapat memperoleh banyak manfaat.

 

Permainan motorik kasar merupakan permainan yang melibatkan otot-otot besar pada anak, misalnya permainan dengan berlari, melompat, berjalan. Selain itu ada juga permainan motorik kasar yang melibatkan koordinasi mata dan tangan, seperti melempar bola, menangkap, menendang). Biasanya permainan motorik kasar cenderung dilakukan outdoor dan seringkali dianggap akan membuat anak lelah. Padahal secara penelitian, anak usia sekolah memerlukan kegiatan seimbang antara aktivitas motorik kasar dengan aktivitas yang sering duduk. Tidak hanya pada anak laki-laki tetapi juga pada anak perempuan.

 

Dalam sebuah penelitian di Finlandia ditemukan bahwa anak-anak yang memiliki kemampuan motorik yang kurang baik ternyata memiliki kelemahan pada kemampuan membaca dan aritmatika. Sebaliknya, anak dengan performa motorik kasar yang baik memiliki skor lebih tinggi pada kemampuan membaca dan aritmatikanya. Melihat hasil penelitian ini maka Bergland (2013) memberikan panduan kepada orang tua dalam memberikan permainan motorik kasar kepada anak.

  1. Tingkatkan aktivitas motorik kasar anak setidaknya dua jam setiap harinya dengan jenis kegiatan yang berbeda-beda, misalnya permainan motorik kasar (bermain lompat karet, bermain basket, sepeda, berenang) atau pun beraktivitas motorik supaya anak bergerak (naik sepeda ke sekolah atau warung terdekat, berjalan menuju gerbang komplek rumah), dan lainnya.
  2. Asah kemampuan motorik kasar anak supaya mengembangkan kemampuan fisik, kecerdasan emosi, dan kemampuan kognitifnya. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan aktivitas permainan motorik yang dilakukan rutin.
  3. Ajak anak memilih permainan motorik kasar apa yang ia gemari sehingga ia dapat menikmati permainan yang ia mainkan dalam jangka waktu yang lama.
  4. Kurangi waktu bermain permainan yang kurang banyak bergerak, misalnya bermain game di ponsel atau menonton tv. Batasi kegiatan ini maksimal dua jam setiap harinya.
  5. Observasi kemampuan anak. Saat anak sudah fasih melakukan permainan motorik kasarnya, orang tua  dapat meningkatkan kesulitan cara bermainnya. Hal ini membantu anak melatih kemampuan ukur diri dan melatih problem solving.

 

Memperbanyak permainan motorik kasar pada anak usia sekolah tidak hanya dilakukan oleh orangtua  saja, tetapi hal ini juga dapat didukung oleh guru di sekolah. orangtua dan guru dapat menciptakan sebuah permainan dengan banyak gerakan saat ingin mengajarkan subjek tertentu di sekolah. Aktivitas bermain motorik kasar akan menjadi jauh lebih menyenangkan bila dapat dilakukan  di alam terbuka, maka liburan keluarga dapat direncanakan untuk glamping ke gunung, bermain pasir di pantai, ataupun caving di gua. Apapun! Dan ternyata, nilai lebih aktivitas bermain motorik kasar ini memiliki kelebihan yang sama untuk orangtuanya . Jadi patut dicoba panduan di atas. Selamat bergerak!

Sumber:

Sunderland, M. (2006). The Science of Parenting, DK Publishing, New York.

Bergland. (2013). https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-athletes-way/201310/better-motor-skills-linked-higher-academic-scores

Narvaez, Darcia. (2014). https://www.psychologytoday.com/us/blog/moral-landscapes/201403/children-may-be-playing-their-brains-are-working

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>