Aku Siap Sekolah Ma, Pa!

By Rumah Dandelion

Hari pertama masuk sekolah bisa jadi hari yang sangat menyenangkan, atau sebaliknya jadi momok yang menakutkan. Apalagi, bagi anak balita yang perdana bersekolah. Jika biasanya kemana-mana ditemani orangtua atau pengasuh, kini harus menghadapi lingkungan baru dengan orang-orang yang masih asing baginya. Kecemasan akan perpisahan, dan tangisan, ada kalanya tidak dapat dihindari.

Sebagai orang tua, apa yang kira-kira bisa dilakukan untuk mempermudah proses ini?

SEBELUM HARI H

Sounding

Sejak beberapa hari bahkan beberapa minggu sebelumnya, sebaiknya sudah mulai sounding. Buat semacam kalender di rumah, dan kasih tanda kapan hari pertama anak bersekolah. Tiap hari, ajak anak lihat kalendernya dan ingatkan kembali. Berikan kata-kata positif untuk meyakinkan anak bahwa dia akan bersenang-senang di sekolah. Bisa juga dengan menceritakan pengalaman anak di waktu lain saat ia bisa atasi rasa takutnya akan sesuatu. Misalnya, “Mama papa tahu kamu mungkin takut yah ke sekolah, karena belum pernah dan ga ada mama papa. Tapi coba deh inget-inget waktu kamu takut pas mama ajak berenang pertama kali. Ternyata setelah mau coba, eh sekarang suka sekali.”

Membacakan cerita

Orangtua dapat membangun kesiapan anak bersekolah melalui cerita, hingga ia punya bayangan seperti apa sih sekolah itu dan lebih bisa antisipasi. Bisa pula membacakan cerita yang bertemakan perpisahan dan pertemuan kembali. Poin penekanannya adalah bahwa memang ada kalanya anak harus pisah dengan orangtua atau pengasuh, but they do come back. Ada seri buku Hari Pertama Sekolah dari penerbit BIP, judul-judulnya seperti ”Jangan Malu Leo”, ”Mama Mana?”, dan ”Ayo Berangkat!”  (karangan Naning Chandra). Buku lainnya antara lain Come to School Too Blue Kangaroo (Emma Clark), Chomp Goes to School  (Melissa Matox & Mark Chambers), Llama Llama Misses Mama (Ann Dewdney), dan The Kissing Hand (Audrey Penn).

Visualisasi rutinitas

Orangtua dapat membuat semacam visualisasi yang isinya gambar-gambar tentang sekuens kegiatan anak dari persiapan sekolah hingga waktunya pulang ke rumah. Sekuens seperti bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat ke sekolah, cium / salam perpisahan, belajar di sekolah, dan pertemuan kembali. Bagi anak yang sense of time-nya belum terlalu terbangun, visualisasi dan patokan waktu berdasarkan kegiatan ini akan sangat membantu. Anak jadi bisa punya antisipasi dan struktur, sehingga lebih mudah mengatasi kecemasan.

Libatkan anak dalam persiapan sekolah

Ini untuk memberi antisipasi positif bagi anak, dan menanamkan kesan kalau anak sudah cukup besar untuk diberi tanggung jawab siap-siap, dan berarti cukup besar juga untuk belajar sendiri di kelas. Sesekali beri kebebasan anak untuk menentukan mau pakai baju yang mana ke sekolah (untuk sekolah yang tidak pakai seragam), atau mau bawa makanan apa.

Foto guru dan teman-teman

Untuk anak yang benar-benar mau masuk sekolah baru, orangtua bisa membantu penyesuaian dirinya dengan mengajak lihat-lihat sekolah dari beberapa hari sebelumnya. Cara lain, siapkan foto guru dan teman-teman sekelasnya, sering-sering kasih lihat ke anak supaya lebih familiar.

SAAT HARI H

Buat ritual perpisahan

Ciptakan ritual perpisahan (kalimat, gerakan, atau nyanyian spesial), buat jadi transisi yang fun. Kalimat sesimpel ”Dadah Anak Hebat!”  sambil mengacungkan jempol dan mencium keningnya, atau nyanyi bersama lagu Pergi Belajar (yang ini nih ”Oh Ibu dan Ayah selamat pagi, ku pergi belajar sampaikan nanti…”  bisa dilakukan.

Jangan sembunyi-sembunyi

Saat sudah tiba waktunya anak masuk kelas dan berpisah dengan orangtua / pengasuh, tenangkan anak, lakukan ritual perpisahan, lalu segeralah pergi. Do not prolong the goodbye time.

Jangan pula pergi diam-diam, karena malah bisa buat anak cemas   karena tidak tahu kapan orangtua pergi. Kali berikutnya, yang ada anak justru semakin menempel.

preschoolerseparationanxiety
Sumber foto: pbs.org

Perpisahan gradual

Sediakan waktu transisi sekitar 30 menit. Pakai teknik jam untuk gentle reminder, “Nanti kalau sudah jam 8, jarum pendeknya di sini (tunjuk ke angka 8), sudah waktunya kamu masuk kelas ya..”  atau “Nanti kalau alarmnya bunyi, artinya sudah waktunya kamu belajar dan mama pergi ya. Balik lagi jemput pas kamu pulang sekolah..”  Ingetkan setiap 10 menit, dan semakin dekat waktunya semakin sering mengingatkannya, 5 menit atau 3 menit sekali.

Bawakan benda kesayangan

Benda kesayangan bisa jadi penenang buat anak, seperti boneka, mainan, atau selimut favoritnya. Bisa juga anak dibawakan foto keluarga yang dapat ia lihat-lihat kalau kangen. Pas sudah waktunya masuk kelas, bilang ke anak “Coba kasih lihat foto-foto kita ke bu guru dan teman-teman.“ Bisa jadi anak malah excited dan perhatiannya teralih dari perpisahan.

Di atas semua itu, orang tua mesti mencoba untuk tetap tenang, karena bagaimanapun akan berpengaruh ke anak. Kalau orangtua tenang dan tidak terlalu membesar-besarkan saat perpisahan, anak juga biasanya lebih santai.

Percayalah anak punya resiliensi untuk atasi ’masalah hidup’nya ini, jadi jangan khawatir kalau anak akan trauma.

Pertama kali berpisah, orangtua harus antisipasi adanya rengekan dan jejeritan. Itu wajar. Jangan lalu karena anak menangis, jadi balik lagi, atau mengikuti  anak bila ia tidak mau sekolah besoknya. Dari pertama kali berpisah sampai anak bisa benar-benar tenang menghadapi perpisahan, bisa butuh waktu harian, mingguan, atau bulanan, tergantung temperamen anak serta proses yang dilakukan orangtua dan pihak sekolah. Satu hal yang pasti, fase ini akan terlewati!

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>