Ada Apa dengan Remaja? Mengupas Fenomena #Skipchallenge

By Rumah Dandelion

Bagi pembaca yang lahir pada era 80 atau 90an, mungkin masih jelas teringat bahkan masih tergila-gila dengan film remaja kita, Ada Apa dengan Cinta? (AADC). Saat film pertama diputar, semua orang langsung membicarakannya dan menjadi tren di kalangan remaja dengan puisi “Kulari ke hutan, kemudian menyanyiku. Kulari ke pantai, kemudian teriakku…” ( Hayo, siapa yang langsung membacanya dengan rima yang tepat?). Bahkan film kedua pun memiliki tren yang sama, “Rangga… KAMU JAHAT!”. Namun bedanya, cuplikan di film kedua ini menjadi begitu viral dan menjadi lebih banyak tersebar karena adanya media sosial yang sudah sangat pesat berkembang pada era digital.

Tren di kalangan remaja sekarang bisa langsung menyebar secepat menjetikkan jari. Dengan maraknya media social dan kecepatan internet memang sangat terbantu sekali terhadap penyebaran tren ini. Misalnya saja tren di akhir 2016 seperti “Om, telolet, Om” yang berasal dari Indonesia tetapi dampaknya hingga internasional, atau ada juga tren “Mannequin Challenge” yang berasal dari Amerika dan diikuti hampir di seluruh dunia. Kedua tren yang tersebar ini, menurut saya terlihat positif bahkan sangat menghibur. Namun, pernahkah tahu mengenai tren “Skip Challenge” atau nama lainnya “Pass Out Challenge” yang beredar di kalangan remaja sekolah? Nah, dalam artikel ini saya akan banyak menulis mengenai hal ini.

Walaupun sudah berlangsung dari tahun 1995, ternyata belum banyak penelitian yang dilakukan terhadap tren Skip Challenge ini. Sumber yang banyak membahas mengenai Skip Challenge salah satunya adalah situs NoBullying.com. Skip challenge dijelaskan sebagai tantangan yang dilakukan dengan menekan dada sehingga dapat menghambat pernapasan dan saat dilepas secara otomatis tubuh akan mencari lebih banyak oksigen yang menimbulkan sensasi “high”. Namun, ada juga orang yang melakukan skip challenge akan kehabisan napas, lalu kejang-kejang, dan bisa pingsan seketika atau bahkan berujung kematian.

 

Lalu kenapa banyak remaja melakukannya? Secara medis, Dr. Thomas Andrew, yang merupakan dokter anak dan kepala medis di New Hampshire, menjelaskan bahwa skip challenge menjadi tren di kalangan remaja karena dianggap oleh mereka dapat menciptakan sensasi “high” tanpa menggunakan rokok, alcohol, bahkan obat terlarang yang mana menjadi barang ilegal untuk usia tertentu. Di Amerika sendiri, banyak sekali anak yang mencoba melakukannya di tahapan usia 9-14 tahun. Namun secara psikologis menurut saya, remaja akan berani mencoba Skip Challenge karena menonton video viral yang menunjukkan keberhasilan remaja lain melakukan kegiatan ini. Adegan yang mencekam, kemudian berhasil seperti hidup lagi, dan testimoni remaja lain yang berhasil melaluinya. Padahal remaja mungkin tidak mengetahui bahwa tahun 2012 oleh Centers for Disease Control di Amerika menerima kasus sebanyak 82 anak yang meninggal pada rentang usia 6 hingga 19 tahun karena Skip Challenge ini.

 

  1. Ada apa dengan remaja? Brown (2011) menjelaskan perkembangan psikososial dan pengambilan resiko pada remaja. Pada dasarnya, remaja memiliki empat hal yang ingin dicapai yakni ingin menonjol dalam mengembangkan identitasnya, selalu mencari cara untuk dapat diterima pada kelompoknya (karena penting untuk diterima dalam peer), memiliki kecenderungan untuk mengejar tantangan sehingga dapat mengukur kemampuannya (apakah bisa berhasil seperti orang lain), dan terkadang mempunyai kepercayaan terhadap tujuan dan kegiatan tertentu. Empat hal ini berhubungan dengan bagaimana remaja mengambil keputusan yang beresiko. Berdasarkan empat hal tersebut, Brown melihat bagaimana mata remaja menilai kegiatan yang beresiko seperti Skip Challenge ini yaitu : Pertama,  resiko yang muncul akibat bermain dapat memicu remaja untuk melakukannya atau bahkan malah menghalangi mereka untuk melakukannya
  2. Kedua, remaja dapat saja melakukan hal yang beresiko untuk mencapai keberhasilan sehingga mengatasi kegagalan di area lain (meningkatkan kepercayaan diri anak)

Memang menghadapi remaja merupakan tantangan tersendiri. Bagi orang tua yang mungkin mendapati anaknya mengikuti tren Skip Challenge atau tren lain yang akan muncul nanti, maka ada tips yang saya kutip dari website NoBullying.com yakni:

  • Perlu diingat kembali bahwa terkadang anak remaja kita belum tentu mengetahui banyak mengenai kegiatan Skip Challenge ini. Seperti apa permainan ini atau bagaimana berbahayanya permainan ini. Namun, kita sebagai orang tua dapat mengajak anak untuk berbagi sebagai bahan pelajaran mereka
  • Jika anak kita melakukan skip challenge dengan temannya, pastikan orang tua melakukan pendekatan dengan tenang. Orang tua harus paham dulu sejauh mana permainan ini berbahaya dan dapat menjelaskannya dengan tenang dan bijak
  • Orang tua dapat mencari dasar pembicaraan dengan fakta-fakta yang dapat diminta secara medis dari dokter atau pembahasan dari pakar mengenai bahayanya permainan ini.
  • Ciptakan suasana nyaman sebelum mengajak remaja berdiskusi, dan orang tua boleh loh mengajak bantuan orang lain untuk didampingi saat berdiskusi dengan anak remaja kita (misalnya dengan Dokter atau Psikolog).

 

Ditulis oleh : Carmelia Riyadhni, S.Psi

 

Sumber:

https://nobullying.com/pass-out-challenge/

http://abcnews.go.com/2020/Health/story?id=989844

Brown, Bradford. 2011. The Science of Adolescent Risk-Taking: Workshop Report. Washington DC: National Academies Press

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>