Ada Apa dengan Kata Jangan?

By Orissa Anggita

Beberapa waktu lalu saya mengisi live chat  dan diminta untuk membahas tentang topik ini. Pertanyaan ini cukup sering saya dapatkan dan memang menjadi kendala bagi banyak orangtua untuk menghindari penggunaan kata jangan/tidak. Sebelum membahas tips untuk mengganti kata jangan/ tidak, berikut alasan mengapa penggunaan dua kata tersebut perlu diminimalisasi.

Alasan Menghindari Kata Jangan/Tidak

 

  • Anak belum tentu paham apa yang kita harapkan dari kalimat larangan kita.

 

Ketika kita mengatakan “Jangan lari-larian di tangga” belum tentu mereka langsung memahami bahwa apa yang kita inginkan adalah mereka berjalan di tangga. Bisa saja mereka kemudian malah melompat atau berguling. Atau coba bayangkan, kalau saya minta “Angkat yang bukan jari kelingking” maka ada kemungkinan Anda mengangkat jempol, telunjuk, jari tengah, atau jari manis. Membutuhkan trial-error beberapa kali sampai bisa mengangkat jari sesuai apa yang saya harapkan. Bukankah lebih mudah jika dari awal saya mengatakan “angkat jari jempol”? Di kehidupan sehari-hari, kadang orangtua tidak punya waktu dan stok sabar yang cukup untuk menunggu anak melakukan trial-error ini.

 

  • Mematikan rasa ingin tahu anak

 

Anak punya kebutuhan yang tinggi sekali untuk memahami tentang dunia di sekelilingnya. Anak senang belajar dan eksplorasi, dan ini perlu difasilitasi. Terlalu banyak larangan bisa membuat semangat belajar ini padam dan anak jadi kurang inisiatif. “Jangan nyeker nanti kotor, jangan main colokan, ga boleh pegang gunting bahaya, ga boleh makan sate nanti ketusuk” wah bisa tidak ada habisnya. Pertanyaannya: kapan anak mau bisa bila tidak pernah ada kesempatan mengembangkan skillnya?

 

  • Kehilangan maknanya

 

Jika terlalu sering bilang jangan atau tidak, lama-lama kata tersebut dapat kehilangan maknanya dan membuat anak justru mengabaikan. Ini jutsru dapat menjadi bumerang bagi orangtua.

 

Tips mengurangi penggunaan kata Jangan/Tidak

 

  • Katakan perilaku apa yang sebenarnya orangtua harapkan

 

Salah satu yang bisa dilakukan orangtua untuk membantu anak melakukan suatu perilaku adalah menyatakan secara jelas apa perilaku yang diharapkan tersebut. “Sebelum makan, cuci tangan dulu ya pakai air dan sabun/ tisu basah” daripada “Jangan makan dengan tangan yang kotor.” Kalau sudah terlanjur keluar kata jangan/tidak, segera counter dengan alasan dan harapannya. “Jangan lempar makanan dong!” lengkapi dengan “Apelnya untuk dimakan ya. Kalau tidak mau simpan di kulkas.” Atau “Jangan teriak-teriak” lengkapi dengan “Adik sedang tidur, nanti kalau berisik bisa terbangun. Bicaranya pelan-pelan saja ya.”

 

  • Beri alternatif

 

Daripada melarang, lebih baik ajarkan caranya dan berikan batasan yang jelas. Misalnya, ada disini yang anaknya penasaran dengan colokan? Sekalian saja ditunjukkan bagaimana menggunakannya dengan benar. Cabut listriknya, lalu katakan “pegang kepalanya ya dek, di sebalah sini” , beri contoh cara memasang dan mencabutnya, lalu beri kesempatan mencoba berkali-kali. Sejak usia 1.5 tahun pun sebenarnya sudah bisa lho. Percayalah pada kemampuan belajar anak. Orangtua namun tetap perlu memberi batasan. Beri aturan “boleh main colokan kalau tangannya kering dan sama mama/papa ya..” Begitu pula saat anak ingin main gunting, beri alternatif “dek, kalau gunting itu yang itu tajam dan adek belum bisa pakai. Ganti dengan gunting yang ini ya (gunting khusus anak yang berujung tumpul) atau adik main warna-warna saja yuk sama papa!”

 

  • Setujui keinginan/ permintaan dengan syarat tertentu

 

Misalnya saat anak meminta es krim padahal ia belum makan, daripada langsung berkata “Ga boleh makan es krim” kita bisa katakan “Oke boleh, nanti ketika kamu sudah selesai makan nasinya ya.” Dengan begitu, yang didengar anak pertama bukan ‘tidak boleh’, tetapi ‘iya’ dan ia belajar juga bahwa untuk mendapat sesuatu ada usaha yang perlu dilakukan. Tidak serta merta semua keinginannya akan dituruti.

 

  • Minta ia ajukan alasan untuk mendukung permintaannya

 

Misalnya anak meminta hewan peliharaan. Daripada langsung bilang tidak boleh, bisa minta anak untuk menjelaskan alasan dan melihat kesiapannya. “Kenapa kamu mau pelihara kucing?”, “Nanti siapa yang kasih makan?”, “Apa kamu sudah siap membersihkan kandangnya?” Dengan begitu kita melatih kemampuan berpikir anak dan anak belajar bahwa permintaan datang dengan konsekuensi tertentu. Jika kita masih ragu, dapat kita jawab dulu “Kasih mama/papa waktu berpikir ya.” Penundaan ini juga membuat kita bisa melihat apakah anak benar-benar serius dengan permintaannya atau hanya mood saat itu saja. Jika ternyata anak bisa memberikan alasan yang masuk akal dan tampak siap, sebagai orangtua juga kita harus fleksibel dan membuka diri untuk mengikuti keinginan anak.

Ada yang sempat memberi tanggapan, “bagaimana anak bisa disiplin kalau anak tidak boleh mendengar kata jangan/tidak?” ‘di dalam ajaran agama juga banyak kok penggunaan kata jangan/ tidak boleh, jadi sebenarnya ga masalah.” Menurut saya, penggunaan kata jangan/ tidak memang bukan berarti sama sekali tidak boleh, namun sebaiknya diminimalisasi dengan alasan yang sudah diutarakan sebelumnya. Sehingga anak memahami alasan dibalik larangan tersebut, dan kita sebagai orang dewasa tidak mematikan kemampuan berpikir kritis anak.

Nah, jika selama ini sudah terlanjur sering bilang jangan/ tidak, apakah masih bisa diubah? Tentu bisa, selama memang ingin dan merasa perlu berubah. Susaahhh memang mengubah kebiasaan yaa, namun bukan berarti tidak bisa. Semangat!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>