5 Alasan Perlunya Pembatasan Screen Time untuk Anak Usia Dini

By Rumah Dandelion

Di era teknologi seperti saat ini, pertanyaan yang mungkin sering muncul di benak orang tua adalah:

“Kapan anak boleh dipaparkan ke teknologi?”

“Berapa lama bolehnya?”

“Bagaimana membatasinya?”

“Apa memang benar teknologi berbahaya, padahal anak bisa belajar banyak hal dari sana?”

American Association of Pediatrics (AAP) merekomendasikan 1-2 jam screen time untuk anak usia 2-8 tahun setiap harinya, dan 0 jam untuk anak di bawah 2 tahun. Yup, 0 jam untuk total screen time yang berarti termasuk televisi, komputer, tablet, handphone, video games, dan bioskop. Namun kecenderungannya, anak di bawah dua tahun pun sudah terpapar oleh teknologi. Bahkan tidak jarang ditemui anak yang dari usia setahun sudah lincah menggerakan jari-jarinya di layar.

Teknologi bisa menjadi sahabat orang tua dalam mengasuh anak, asalkan digunakan secara bijak. Bila pemanfaatannya tepat, teknologi dapat memberikan dampak yang positif. Teknologi dapat menjadi media belajar. Anak bisa belajar suatu konsep (dari yang sederhana seperti warna, bentuk, dan ukuran, hingga yang kompleks seperti terjadinya hujan, sistem pencernaan, atau peradaban dunia) dengan gambar / animasi yang lebih menarik dan memudahkan pemahaman. Wawasan pun bisa berkembang luas, dengan kemudahan mencari informasi tentang peristiwa faktual, pertandingan olahraga, tren musik, atau biografi tokoh. Teknologi juga dapat menjadi media hiburan dan untuk menyimpan memori perkembangan atau pengalaman hidup berupa foto dan video.

Namun demikian, mengapa akses anak usia dini terhadap teknologi perlu dibatasi? Dengan manfaat edukasi yang ditawarkan oleh teknologi, wajar bila orang tua bertanya-tanya mengapa akses anak usia dini terhadap teknologi perlu dibatasi. Banyak orang tua yang membanggakan bahwa anaknya sejak bayi sudah bisa mengoperasikan tablet dan dapat berbahasa Inggris. Hal ini bukan berarti buruk, sama sekali tidak. Hanya saja, perkembangan yang baik itu perlu dilihat dari segala aspek (kognitif, bahasa, motorik kasar, motorik halus, sosial emosional dan kemandirian).

Melemahkan Kontrol Diri

Perangkat digital sangat mudah diakses hanya dengan remote, klik, dan sentuh layar. Animasi yang mengesankan, warna yang memukau, dan suara-suara yang menarik bermunculan dalam waktu singkat. Anak dapat memperolah apa yang diinginkan secara cepat dan dengan gerakan sederhana. Dalam jangka panjang, penelitian menunjukkan bahwa anak yang lebih sering terpapar teknologi ternyata lebih impulsif, kurang sabar, dan kontrol dirinya lebih lemah. Saat dihadapkan pada suatu masalah, cenderung kurang persisten dan memilih jalan yang mudah/cepat.

Menurunkan Daya Konsentrasi

“Anak saya kalau dikasih nonton televisi bisa tenang dan fokus. Kalau dikasih mainan lain cepat bosan.”

Ternyata, hal ini bisa terjadi karena saat menggunakan perangkat digital, anak terpapar stimulus yang kuat di indera visual auditorinya (penglihatan dan pendengaran). Sinar dan warna yang mencolok tampil terus-terusan, gambar berganti dengan cepat. Saat anak ingin berpaling, muncul lagi tampilan baru yang membuat anak kembali melihat layar. Akibatnya, anak jadi kurang bisa mempertahankan perhatian pada permainan atau kegiatan sehari-hari yang ‘tidak sekuat’ stimulus dari perangkat teknologi. Ada yang menyebut fenomena ini sebagai popcorn brain. Otak anak selalu mencari hal yang semakin lama semakin cepat dan menarik. Ia akan datar dan cepat bosan kalau ‘sekedar’ diajak baca buku, main prosotan, menari bebas, menyuzun puzzle/balok, atau kejar-kejaran di alam terbuka.

Pembelajaran Tidak Langsung dan Pasif

Belajar melalui perangkat digital memang menarik, namun sifatnya cenderung tidak langsung. Misalnya anak belajar tentang sapi. Seberapapun menariknya, pengalaman inderawinya kurang menyeluruh. Anak tidak akan bisa merasakan tekstur bulu sapi atau mengamati perbandingan besarnya tubuh sapi dengan dirinya secara langsung. Teknologi juga cenderung satu arah, anak sebagai pendengar pasif. Meski tablet mengeluarkan banyak suara dan seolah mengajak anak berbicara, namun tidak akan dapat merespon balik saat anak berceloteh. Bila tokoh di televisi menanyakan apa warna segitiga dan anak menjawab merah (padahal biru), televisi tidak dapat mengoreksinya. Saat menggunakan perangkat digital anak pun lebih sering duduk dan kurang bergerak. Padahal, pengembangan motorik itu sangat penting terutama di dua tahun pertama.

Minim Kontak dengan Orang Lain

Ada keterampilan yang boleh dimiliki, dan ada yang harus dimiliki oleh anak. Jago teknologi itu boleh, keterampilan sosial itu harus. Sayangnya, mayoritas perangkat teknologi bersifat individual, atau mempertemukan tapi tidak langsung (dunia maya). Bayangkan anak bermain petak umpet. Di situ anak dituntut kemampuan sosial misalnya untuk menentukan siapa jaga siapa sembunyi, dan belajar bermain dengan aturan yang dirembukkan bersama. Menurut studi, ada hubungan antara frekuensi penggunaan teknologi dengan masalah dalam hubungan sosial seperti sulit dapat teman baru, kurang paham cara interaksi yang baik, sulit kerja kelompok, dan kurang mampu atasi konflik. Nantinya, anak yang kurang punya kemampuan sosialisasi bisa mengalami kesulitan adaptasi sebagai anggota masyarakat.

Paparan Hal Ekstrim

Akses anak usia dini terhadap teknologi juga perlu dibatasi agar tidak terpapar hal-hal yang kurang baik (mengandung unsur kekerasan ataupun seksualitas) dan tidak sesuai usia perkembangannya. Contohnya saja, saat ini banyak permainan dimana anak akan mendapatkan poin bila bisa mengalahkan lawan dengan memukul atau menembak. Hal yang dikhawatirkan adalah anak menganggap perilaku agresif ini sebagai hal yang biasa saja, dan tidak ada perasaan bersalah saat melakukan ini di dunia nyata.

Lalu apa yang bisa dilakukan orangtua untuk memanfaatkan teknologi secara bijak? Baca di sini ya 🙂

Link & Resource

 Shin, Yee-Jin. 2014. Mendidik Anak di Era Digital: Kiat Menangkal Efek Buruk Teknologi terhadap Anak. Noura Books.

Dalbesio-Johnholtz, Jamie A. 2007. Television and Children: Developmentally Harmful or Educationally Beneficial? University of Wisconsin-Stout. http://www2.uwstout.edu/content/lib/thesis/2007/2007dalbesio-johnholtzj.pdf

Hill, David. 2015. Why to avoid television before age 2. https://www.healthychildren.org

Kirkorian, H., Wartella, E., dan Anderson, D. 2008. Media and Young Children’s Learning. The Future of Children Vol 18 No 1. http://www.princeton.edu/futureofchildren/publications/docs/18_01_03.pdf

Rown, Cris. The Impact of Technology on Child Sensory and Motor Development. http://www.sensomotorische-integratie.nl/CrisRowan.pdf

 A Practical Guide to Balancing Screen Time and Play Time. 2014. http://www.huffingtonpost.com/2014/01/24/balancing-tech-and-playtime-infographic_n_4653793.html

 Screen time and children. http://raisingchildren.net.au/articles/screen_time.html/context/760

3 thoughts on “5 Alasan Perlunya Pembatasan Screen Time untuk Anak Usia Dini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>