Ulang Tahun Pertama Rumah Dandelion

By Rumah Dandelion

Dalam rangka ulang tahun pertama Rumah Dandelion, kami memutuskan untuk merayakan dengan cara berbagi kebahagiaan bersama anak-anak di Panti Asuhan Tunas Bangsa. Dua minggu sebelum hari H, Rumah Dandelion mempublikasikan ke teman-teman melalui media sosial dan mengajak untuk turut serta memberi sumbangan berupa uang maupun barang layak pakai untuk anak-anak penghuni panti. Tak disangka, antusiasme begitu besar dan sumbangan yang kami terima melebihi ekpektansi kami berlima. Setelah dibelikan barang-barang yang dibutuhkan dan mengemas seluruh pemberian, kami siap untuk berbagi dengan anak-anak dan pengurus di Panti Asuhan.

Hari yang dinantikan tiba. Tanggal 19 November 2015 pagi, kami berkumpul bersama di Panti Asuhan Tunas Bangsa. Pukul 10.00 kami naik ke ruang Aula dan siap bermain bersama balita yang ada di panti. Secara bertahap anak-anak masuk ke ruang aula. Rombongan pertama adalah adik-adik berusia 2 tahunan. Dengan wajah yang polos dan tampak bingung, anak-anak ini masuk dengan bergandengan atau digendong oleh petugas panti asuhan. Beberapa dari mereka masih takut dan menangis ketika melihat orang baru. Tak berapa lama, datang anak-anak berusia 3 – 4 tahun yang usah tampak lebih besar dan lebih berani dibandingkan adik-adiknya. Acara pun siap dimulai!

tunas bangsa 5tunas bangsa 3tunas bangsa 4

Tante Nadya membuka acara hari ini dan disambut dengan sorakan gembira anak-anak. Kami memasang lagu anak-anak dan bernyanyi, serta menari bersama untuk mencairkan suasana. Dalam kegiatan kelompok, sesi ini biasa disebut ice breaking dan menjadi sesi yang penting agar sesi-sesi selanjutnya dapat berjalan dengan lancar. Setelah menari-nari sebagian besar anak-anak tampak mulai nyaman dan siap untuk bermain bersama.

Permainan pertama, anak-anak dipandu oleh tante Orissa dan tante Carmel. Tante-tante mengajak anak-anak bergandengan tangan dan membuat lingkaran besar. Mereka bernyanyi lagu “Berjalan di Hutan” (untuk teman-teman yang mengikuti Kelas Bayi Bermain Kupu-Kupu term kemarin pasti familiar dengan lagu ini ya.. ☺) dan mengenal hewan-hewan yang ada di hutan, melalui boneka Beruang, Gajah, dan Monyet.

Setelah bernyanyi dan menggerakkan tubuh sesuai irama, kini anak-anak berkumpul di karpet bersama tante Agstried yang akan membacakan buku “The Very Hungry Caterpilar” karya Eric Carle. Surprisingly, anak-anak yang awalnya sangat aktif bergerak, melompat, menari, dan berlari-lari, dapat duduk dengan sangat tertib dan mendengarkan cerita yang dibacakan tante Agstried dengan seksama. Memang buku selalu memiliki kekuatan istimewa untuk menarik hati pembaca (atau pendengar) –nya yaa.

Setelah anak-anak berkenalan dengan tokoh ulat di buku, kini saatnya tante Nurie dari Omemoria mengajak membuat lukisan ulat dari cap tangan dan cat. Anak-anak membuat 4 kelompok yang dipandu oleh tante-tante dari Omemoria dan Rumah Dandelion. Setiap kelompok diberikan sebuah kanvas berbentuk persegi panjang, palet, cat beraneka warna, kuas, spidol, dan tissue basah. Setiap anak berkesempatan mengecat telapak tangannya dan membuat cap telapak tangan di kanvas. Sebagai sentuhan akhir, tante-tante membantu menuliskan nama-nama anak yang membuat cap tangan dan tanggal hari itu. Diharapkan hasil karya anak-anak tersebut dapat dipajang di kamar atau ruang bermain mereka, sehingga mereka dapat terus mengingat kebahagiaan yang mereka alami hari itu.

Sebagai penutup, kami membagikan goodie bag berupa tas sekolah, buku mewarnai, 1 set pensil warna, mainan, susu, dan biskuit. Wajah bahagia tampak jelas terpancar ketika mereka membuka tas sekolah dan menemukan mainan dan buku di dalamnya. Setelah berfoto bersama, mereka pun kembali ke kamar masing-masing untuk makan siang dan beristirahat.

Sebuah pengalaman yang berharga bagi kami dan anak-anak kami (yang sengaja kami bawa di hari itu) untuk berbagi kebahagiaan bersama mereka. Bagi saya pribadi, berkunjung ke panti asuhan bukanlah kala pertama saya. Tapi sebagai ibu, ini adalah kala pertama saya bertemu dengan balita di panti asuhan bersama anak saya sendiri. Perasaan yang berbeda saya rasakan adalah ketika sebagai ibu, ada seorang anak lain yang tiba-tiba memeluk dan meminta perhatian dan kasih-sayang ke kita, di satu sisi ada anak sendiri yang melihat dengan hati dan tangan terbuka menyambut teman-teman di panti asuhan. Rasanya sungguh sulit diungkapkan dengan kata-kata. Bagaimana anak-anak dengan usia begitu muda dapat mengajarkan orang dewasa artinya kasih sayang, ketulusan hati, dan keikhlasan hanya dengan tatapan mata… Hanya doa yang bisa kami berikan secara terus-menerus untuk anak-anak di Panti Asuhan agar selalu sehat, tumbuh sebagai anak yang pandai, bermanfaat bagi bangsa, dan bahagia.

Oleh: Binky Paramitha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>